- Pemerintah memperkuat perlindungan anak digital melalui PP TUNAS, namun regulasi saja tidak cukup efektif tanpa peran keluarga.
- Pendekatan pelarangan total media sosial sering gagal karena anak mencari celah; dialog terbuka lebih disarankan pakar.
- Literasi digital harus dimulai di rumah dengan komunikasi terbuka agar anak mampu berpikir kritis menghadapi risiko daring.
Suara.com - Di tengah derasnya arus informasi dan konten di media sosial, banyak orang tua berada di persimpangan yang sama: melindungi anak di ruang digital tanpa mematikan rasa ingin tahu mereka. Kekhawatiran soal hoaks, perundungan siber, hingga paparan konten dewasa membuat sebagian orang tua memilih jalan paling cepat—memblokir dan melarang.
Namun, benarkah menekan tombol blokir adalah solusi utama?
Pemerintah memang tengah memperkuat perlindungan anak di ruang digital melalui Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Regulasi ini diharapkan membuat platform digital lebih bertanggung jawab terhadap keamanan pengguna anak dan remaja.
Langkah tersebut patut diapresiasi. Tapi dalam praktiknya, regulasi tidak bisa bekerja sendirian.
Belajar dari Pendekatan yang Terlalu Ketat
Sejumlah negara pernah mencoba pendekatan pelarangan total akses media sosial bagi anak di bawah usia tertentu. Hasilnya? Tidak selalu efektif. Anak-anak tetap menemukan cara untuk “mengakali” sistem, mulai dari membuat akun palsu hingga meminjam identitas orang dewasa.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: pembatasan tanpa pemahaman hanya melahirkan kucing-kucingan digital.
Alih-alih sepenuhnya menutup akses, banyak pakar parenting kini mendorong pendekatan yang lebih dialogis—menguatkan literasi digital dan membangun komunikasi terbuka di rumah.
Baca Juga: Komnas PA Akan Datangi Rumah Virgoun dan Mediasi dengan Inara Rusli
Rumah sebagai Ruang Aman untuk Berdiskusi
Bagi sebagian orang tua, media sosial bukan topik tabu yang dibicarakan dengan nada mengancam. Justru sebaliknya, ia dijadikan bahan diskusi sehari-hari.
Anak diajak memahami risiko hoaks, cara menghadapi komentar kasar, hingga langkah yang harus diambil jika mengalami perundungan siber. Orang tua tidak hanya berkata “jangan”, tetapi juga menjelaskan “mengapa”.
Pendekatan ini memberi dua dampak penting: Anak belajar berpikir kritis, dan anak merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi situasi tidak nyaman. Rasa aman inilah yang menjadi “kompas” sesungguhnya di ruang digital.
Literasi Digital Dimulai dari Rumah
Keamanan digital bukan hanya soal durasi layar atau fitur parental control. Ia juga menyangkut nilai dan etika.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 6 Sunscreen Pencerah di Indomaret yang Worth It Masuk Keranjang Belanja
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu