- Smartwatch mendeteksi potensi aritmia jantung menggunakan sensor cahaya yang membaca aliran darah pergelangan tangan.
- Dokter menyatakan deteksi gangguan irama jantung dapat dilakukan manual dengan meraba denyut nadi di pergelangan tangan.
- Nadi yang tidak beraturan mengindikasikan aritmia, seperti atrium fibrilasi, yang meningkatkan risiko pembentukan bekuan darah.
Suara.com - Beredar di media sosial cerita pasien terdeteksi kelainan jantung berawal dari notifikasi smartwatch alias jam tangan pintar.
Tapi tenang, dokter mengatakan gangguan jantung bisa dideteksi secara manual dengan meraba denyut nadi.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital MT Haryono, dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS mengatakan smartwatch mampu mendeteksi kelainan listrik jantung yang berpotensi aritmia, dengan sensor cahaya saat membaca denyut nadi.
Sensor cahaya atau fotosensor ini bekerja dengan cara mendeteksi perubahan aliran darah di pembuluh darah kecil di pergelangan tangan. Dari situ, perangkat menghitung denyut nadi per menit.
"Untuk smartwatch itu ada kelebihan dan kekurangannya. Smartwatch yang biasa kita pakai itu menggunakan fotosensor. Dia menghitung denyut nadi kita, bukan denyut jantung," ujar dr. Evan saat peresmian Klinik Atrial Fibrilasi (AF Clinic) di Eka Hospital MT Haryono, Jumat (13/2/2026).
dr. Evan mengingatkan denyut nadi berbeda dengan denyut jantung, meski keduanya saling berkaitan. Denyut jantung adalah kontraksi otot jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh.
Sementara denyut nadi adalah gelombang tekanan darah yang terasa di pembuluh darah akibat pompa jantung tersebut.
"Denyut nadi itu dikabarkan dari denyutan jantung. Kalau pada saat kita pakai dan itu sedang dicek, itu bisa terdeteksi. Tapi kalau tidak sedang kita pakai, kita bisa miss (terlewat)," jelasnya.
Sehingga kata dr. Evan, teknologi seperti smartwatch bukan bukan satu-satunya cara untuk mengenali tanda awal gangguan irama jantung.
Baca Juga: 7 Gejala Masalah Jantung Selain Nyeri Dada, Salah Satunya Kelelahan Ekstrem
Deteksi dini kelainan listrik jantung bisa dilakukan dengan cara sederhana yaitu meraba nadi secara berkala.
Lokasi untuk meraba nadi yaitu di pergelangan tangan bagian bawah, tepat di sisi ibu jari.
Gunakan dua atau tiga jari, hindari ibu jari karena memiliki denyut sendiri untuk merasakan irama denyut.
"Cara mendeteksi kalau pasien atau populasi umum tidak punya smartwatch. Caranya adalah, pertama kalau ada berdebar, raba nadi kita. Nadi kita bisa cepat atau pelan," katanya.
Secara medis, nadi cepat disebut takikardia yaitu denyut lebih dari 100 kali per menit saat istirahat. Sedangkan nadi lambat disebut bradikardia adalah kondisi nadi kurang dari 60 kali per menit saat istirahat. Namun, keduanya tidak selalu berarti penyakit.
"Tapi semua yang nadi tidak beraturan itu penyakit. Sebenarnya, nadi cepat, nadi pelan itu bisa varian normal. Tapi kalau tidak beraturan, itu penyakit," tegas dr. Evan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 7 Sunscreen Tone Up Terbaik untuk Kulit Kusam sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang
-
4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima
-
Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini