Suara.com - Pembukaan hutan secara masif tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga membuka pintu bagi ancaman penyakit baru. Di saat dunia masih fokus pada pemulihan kesehatan pascapandemi, risiko wabah berikutnya justru kian mendekat—datang dari hutan yang terus digunduli.
Dilansir dari BBC Earth (1/4/2026), hutan merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati yang sangat kaya, mulai dari satwa hingga tumbuhan. Di dalam ekosistem yang relatif minim intervensi manusia, hidup beragam bakteri, virus, dan patogen yang telah berevolusi selama ribuan tahun.
Masalah muncul ketika batas antara manusia dan ekosistem tersebut mulai hilang.
Penebangan liar dan pembukaan lahan membuat manusia semakin mudah menjangkau habitat satwa liar. Kontak yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih intens, membuka peluang bagi patogen untuk berpindah inang ke manusia.
Di titik inilah risiko zoonosis meningkat—penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Penyakit seperti mpox, Ebola, hingga Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) menjadi contoh nyata bagaimana virus dari alam liar dapat melompat dan memicu krisis kesehatan global.
Dalam rentang 1940 hingga 2024, tercatat 335 penyakit baru yang muncul pada manusia, dan 72 persen di antaranya berasal dari hewan liar. Angka ini menegaskan bahwa ancaman kesehatan global semakin erat kaitannya dengan interaksi manusia dan alam.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat, sekitar 60 persen penyakit yang menginfeksi manusia berasal dari hewan, dan 75 persen di antaranya merupakan jenis infeksi baru. Salah satu contoh paling nyata adalah pandemi Covid-19. Kemenkes juga memperingatkan, ancaman zoonosis dan penyakit infeksius baru di Indonesia diproyeksikan akan terus meningkat seiring tekanan terhadap lingkungan yang belum mereda.
Solusi atas Menyebarnya Penyakit
Merespons situasi ini, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Permenko PMK) Nomor 7 Tahun 2022 yang mengatur pencegahan dan pengendalian zoonosis serta penyakit infeksius baru. Namun, regulasi saja tidak cukup tanpa implementasi yang konsisten di lapangan.
Baca Juga: Dana Iklim dan Rehabilitasi Hutan di Kalimantan: Bisakah REDD+ Beri Dampak Jangka Panjang?
Langkah konkret seperti restorasi hutan menjadi krusial untuk memulihkan fungsi ekologis yang hilang. Di saat yang sama, pelarangan dan pembatasan penebangan harus ditegakkan secara tegas untuk menghentikan laju kerusakan.
Di level individu, perubahan perilaku juga berperan penting. Sikap lebih bijak dan selektif dalam konsumsi dapat menekan permintaan terhadap produk yang mendorong deforestasi. Upaya kecil ini, jika dilakukan secara kolektif, dapat membantu memperlambat kerusakan hutan.
Pada akhirnya, menjaga hutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga strategi pencegahan krisis kesehatan. Hutan yang sehat adalah garis pertahanan pertama untuk menekan risiko muncul dan menyebarnya penyakit.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat