- Komunitas Peduli ASD menyelenggarakan Festival Peduli Autisme pada 4 April 2026 di Pesona Square, Depok, untuk mengedukasi masyarakat mengenai autisme.
- Festival tersebut memberikan edukasi bahwa autisme merupakan variasi kerja otak dan menekankan pentingnya deteksi dini bagi perkembangan anak.
- Penyediaan ruang sensorik di fasilitas publik menjadi solusi krusial dalam mendukung kenyamanan anak autistik guna menciptakan lingkungan inklusif.
“Kondisi ini terjadi ketika anak menerima rangsangan berlebihan—bisa dari suara, cahaya, atau keramaian—dan mereka merespons dengan gerakan atau perilaku yang terlihat mengganggu,” jelasnya.
Karena itu, kehadiran sensory space atau ruang sensorik jadi sangat penting, terutama di ruang publik.
Ruang ini dirancang khusus dengan:
- Warna yang menenangkan
- Pencahayaan yang tidak menyilaukan
- Peredam suara
- Bahkan suara penenang dengan standar tertentu
“Kalau ruang seperti ini tersedia di tempat umum seperti mall, bandara, atau stasiun, itu akan sangat membantu anak-anak dengan autisme,” tambah dr. Apin.
Deteksi Dini Itu Kunci
Banyak orang tua baru menyadari tanda autisme saat anak sudah lebih besar. Padahal, deteksi bisa dilakukan jauh lebih awal.
“Deteksi ideal itu sebenarnya bisa dilakukan di usia 12 sampai 18 bulan. Kalau lewat dari itu, sudah termasuk terlambat,” jelas dr. Apin.
Saat ini, alat skrining juga sudah tersedia gratis di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas, sehingga orang tua bisa lebih cepat mengambil langkah intervensi.
Autisme vs Down Syndrome, Jangan Tertukar
Baca Juga: SUGA BTS Resmi Jadi Salah Satu Penulis Buku Terapi Musik untuk Anak Autisme
Masih banyak yang menyamakan autisme dengan Down syndrome, padahal keduanya berbeda.
- Autisme (ASD): umumnya perkembangan motorik normal, tapi ada keterlambatan komunikasi dan interaksi sosial
- Down syndrome: gangguan genetik dengan keterlambatan menyeluruh, termasuk motorik dan intelektual
“Anak ASD bisa saja motoriknya normal, bahkan aktif. Yang berbeda biasanya di kemampuan bicara dan interaksi,” terang dr. Apin.
Mitos Vaksin Penyebab Autisme, Benarkah?
Isu vaksin masih sering dikaitkan dengan autisme atau bahkan kelumpuhan. Namun, hal ini ditegaskan sebagai mitos.
“Dari semua kasus yang diinvestigasi, tidak ada bukti bahwa vaksin menyebabkan kelumpuhan atau penyakit berat. Selalu ada faktor lain di luar vaksin,” tegas dr. Apin.
Ia juga menambahkan bahwa anak dengan autisme tidak lebih rentan terkena penyakit seperti campak dibanding anak lain.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini
-
IDAI Ingatkan Risiko Susu Formula di MBG: ASI Tak Bisa Digantikan Produk Pabrik
-
Jangan Asal Cari di Internet! Dokter Ingatkan Bahaya Self-Diagnosis saat Nyeri Dada
-
Hati-hati Memilih ART, Ini Alasan Rekrutmen Tradisional Justru Ancam Keamanan Keluarga
-
Cara Kerja Lensa HALT pada Kacamata Anak dengan Miopia, Cegah Mata Minus Makin Parah
-
Bukan Sekadar Estetik, Air Treatment Norium by AZKO Bantu Jaga Kesehatan Bayi di Rumah
-
WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen
-
Tak Cuma Gizi, Anak Juga Butuh Stimulasi Belajar agar Tumbuh Cerdas dan Tangguh
-
Viral Obat Keras Dijual Bebas di Minimarket Tanpa Konsultasi Apoteker Layaknya Apotek
-
Anak Sering Main Gadget? Periksa Mata Rutin Jadi Kunci Cegah Gangguan Penglihatan sejak Dini