Health / Parenting
Senin, 06 April 2026 | 17:43 WIB
Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) (dok. Festival Peduli Autisme 2026)
Baca 10 detik
  • Komunitas Peduli ASD menyelenggarakan Festival Peduli Autisme pada 4 April 2026 di Pesona Square, Depok, untuk mengedukasi masyarakat mengenai autisme.
  • Festival tersebut memberikan edukasi bahwa autisme merupakan variasi kerja otak dan menekankan pentingnya deteksi dini bagi perkembangan anak.
  • Penyediaan ruang sensorik di fasilitas publik menjadi solusi krusial dalam mendukung kenyamanan anak autistik guna menciptakan lingkungan inklusif.

Suara.com - Kesadaran tentang autisme terus meningkat, tapi satu hal yang masih sering tertinggal adalah pemahaman lingkungan sekitar. Padahal, bagi anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), dukungan dari keluarga, sekolah, hingga ruang publik punya peran besar dalam tumbuh kembang mereka.

Menurut data WHO, sekitar 1 dari 127 orang di dunia berada dalam spektrum autisme. Artinya, kemungkinan besar kita pernah—atau akan—berinteraksi dengan individu autistik dalam kehidupan sehari-hari.

Namun sayangnya, banyak keluarga masih merasa 'berjalan sendiri' saat mendampingi anak dengan autisme.

Menjawab kebutuhan itu, Festival Peduli Autisme 2026 hadir sebagai ruang edukasi publik yang mengajak masyarakat lebih dekat dengan dunia anak autistik.

Acara yang digelar oleh Peduli ASD ini berlangsung pada 4 April 2026 di Pesona Square, Depok, dalam rangka memperingati World Autism Awareness Day (2 April). Mengusung tema “Bangga Membersamai Autistik: Dari Rumah, ke Sekolah, hingga Masyarakat”, festival ini dirancang sebagai pengalaman inklusif yang menggabungkan edukasi, interaksi, hingga layanan langsung bagi keluarga.

Menurut Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, festival ini lahir dari realita yang masih dihadapi banyak orang tua.

“Selama ini banyak keluarga berjalan sendiri dalam memahami autisme. Mencari informasi sendiri, menghadapi stigma sendiri, bahkan sering merasa bersalah. Melalui festival ini, kami ingin membuka ruang belajar bersama agar masyarakat memahami bahwa autisme bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami,” katanya.

Autisme Bukan Penyakit, Tapi Cara Otak Bekerja Berbeda

Autisme adalah kondisi perkembangan yang memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta memproses informasi sensorik.

Baca Juga: SUGA BTS Resmi Jadi Salah Satu Penulis Buku Terapi Musik untuk Anak Autisme

Artinya, anak dengan ASD bukan tidak mampu, tapi memiliki cara berbeda dalam memahami dunia.

Science communicator Riza Arief Putranto menjelaskan, “Autisme bukan sekadar diagnosis, melainkan variasi dalam cara otak bekerja. Ketika kita memahami itu, cara kita berinteraksi pun jadi lebih tepat dan empatik.”

Kenapa Anak Autistik Bisa “Meltdown”?

Salah satu kondisi yang sering disalahpahami adalah meltdown—saat anak tampak tantrum, berlari, berteriak, atau sulit dikendalikan.

Padahal, ini bukan soal perilaku nakal.

Menurut dr. Arifianto, Sp.A(K) (Dokter Apin), meltdown biasanya terjadi karena overstimulasi.

“Kondisi ini terjadi ketika anak menerima rangsangan berlebihan—bisa dari suara, cahaya, atau keramaian—dan mereka merespons dengan gerakan atau perilaku yang terlihat mengganggu,” jelasnya.

Karena itu, kehadiran sensory space atau ruang sensorik jadi sangat penting, terutama di ruang publik.

Ruang ini dirancang khusus dengan:

  • Warna yang menenangkan
  • Pencahayaan yang tidak menyilaukan
  • Peredam suara
  • Bahkan suara penenang dengan standar tertentu

“Kalau ruang seperti ini tersedia di tempat umum seperti mall, bandara, atau stasiun, itu akan sangat membantu anak-anak dengan autisme,” tambah dr. Apin.

Deteksi Dini Itu Kunci

Banyak orang tua baru menyadari tanda autisme saat anak sudah lebih besar. Padahal, deteksi bisa dilakukan jauh lebih awal.

“Deteksi ideal itu sebenarnya bisa dilakukan di usia 12 sampai 18 bulan. Kalau lewat dari itu, sudah termasuk terlambat,” jelas dr. Apin.

Saat ini, alat skrining juga sudah tersedia gratis di berbagai fasilitas kesehatan seperti puskesmas, sehingga orang tua bisa lebih cepat mengambil langkah intervensi.

Autisme vs Down Syndrome, Jangan Tertukar

Masih banyak yang menyamakan autisme dengan Down syndrome, padahal keduanya berbeda.

  • Autisme (ASD): umumnya perkembangan motorik normal, tapi ada keterlambatan komunikasi dan interaksi sosial
  • Down syndrome: gangguan genetik dengan keterlambatan menyeluruh, termasuk motorik dan intelektual

“Anak ASD bisa saja motoriknya normal, bahkan aktif. Yang berbeda biasanya di kemampuan bicara dan interaksi,” terang dr. Apin.

Mitos Vaksin Penyebab Autisme, Benarkah?

Isu vaksin masih sering dikaitkan dengan autisme atau bahkan kelumpuhan. Namun, hal ini ditegaskan sebagai mitos.

“Dari semua kasus yang diinvestigasi, tidak ada bukti bahwa vaksin menyebabkan kelumpuhan atau penyakit berat. Selalu ada faktor lain di luar vaksin,” tegas dr. Apin.

Ia juga menambahkan bahwa anak dengan autisme tidak lebih rentan terkena penyakit seperti campak dibanding anak lain.

Lingkungan Inklusif Itu Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan

Tantangan terbesar bukan hanya pada anak, tapi pada lingkungan yang belum siap memahami mereka.

Faktanya, hingga 40% individu autistik tidak memiliki teman dekat, sering kali karena kesalahpahaman dalam komunikasi sosial.

Di sinilah peran kita semua dibutuhkan—bukan hanya orang tua, tapi juga sekolah, fasilitas umum, dan masyarakat luas.

Membangun lingkungan yang inklusif bisa dimulai dari hal sederhana:

  • Tidak menghakimi perilaku anak
  • Memberi ruang dan waktu bagi anak untuk menenangkan diri
  • Menyediakan fasilitas ramah sensorik di ruang publik

Karena pada akhirnya, autisme bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami.

Dan ketika lingkungan ikut belajar, anak-anak dengan autisme pun punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan merasa diterima.

Load More