Health / Konsultasi
Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB
Ilustrasi Masyarakat Berkegiatan di Tengah Polusi Udara (Magnific/Magnific)

Suara.com - Polusi udara selama ini lebih sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan fisik, seperti penyakit pernapasan dan jantung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan dampaknya juga menjangkau kesehatan mental, mulai dari meningkatnya stres hingga risiko depresi dan kecemasan.

Dalam diskusi "Akademi Udara Bersih: From Wisdom to Impactful Action" yang diselenggarakan Bicara Udara dan Guidelight, psikolog Widya Solihat Eka Riani menjelaskan bahwa kondisi lingkungan berperan besar terhadap kesejahteraan psikologis seseorang.

Menurut Widya, pengalaman sehari-hari, termasuk kualitas udara yang dihirup, dapat memengaruhi emosi dan kualitas hidup.

“Apa yang kita hadapi di luar itu membentuk emosi kita. Jadi menjaga lingkungan adalah upaya menjaga ruang yang aman untuk kesehatan mental kita, karena kalau udaranya kotor kita lebih cenderung bad mood dan itu memengaruhi kualitas hidup secara umum,” ujarnya.

Penelitian Temukan Kaitan Polusi Udara dan Gangguan Mental

Pandangan tersebut sejalan dengan temuan sejumlah riset internasional. Salah satunya studi Air Pollution Effects on Mental Health Relationships: Scoping Review on Historically Used Methodologies to Analyze Adult Populations yang menunjukkan bahwa paparan polusi udara berkaitan dengan penurunan kesehatan mental.

Dalam jangka panjang, paparan polusi disebut dapat memengaruhi fungsi kognitif dan meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga depresi.

Dampaknya juga tidak hanya bersifat biologis. Kualitas udara yang buruk dapat membuat orang mengurangi aktivitas luar ruang, membatasi interaksi sosial, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan diri maupun keluarga. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Mengatasi Polusi Udara Perlu Dilakukan Bersama

Baca Juga: Konsentrasi Karbon Dioksida di Atmosfer embali Cetak Rekor: Apa Artinya bagi Indonesia?

Widya menekankan bahwa menjaga kualitas lingkungan bukan semata tanggung jawab individu, melainkan membutuhkan keterlibatan kolektif.

“Itu sebetulnya tanggung jawab kita bersama, karena kita tidak tinggal dalam lingkungan yang kosong ataupun sendirian, tapi kita juga butuh lingkungan,” katanya.

Menurutnya, upaya kolektif tidak hanya membantu memperbaiki lingkungan, tetapi juga memperkuat koneksi sosial yang penting bagi kesehatan mental.

“Kalau yang berjuang sendirian pasti capek. Tapi kalau dilakukan bersama-sama akan muncul connection. Apalagi kita makhluk sosial, kebutuhan seperti itu sangat dibutuhkan,” jelas Widya.

Temuan ini menunjukkan bahwa polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan atau kesehatan fisik. Udara yang lebih bersih juga menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang hidup yang lebih nyaman dan mendukung kesejahteraan mental masyarakat.

Penulis Natasha Suhendra

Load More