Lifestyle / Komunitas
Minggu, 21 Juni 2026 | 07:14 WIB
Ilustrasi Polusi Udara. (Unsplash)

Suara.com - Keterlibatan generasi muda dinilai penting dalam mendorong lahirnya kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi persoalan polusi udara di Indonesia. Generasi muda tidak hanya dipandang sebagai kelompok yang terdampak, tetapi juga sebagai pihak yang bisa berperan dalam riset, advokasi, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis data.

Isu ini dibahas dalam forum diskusi “Akademi Udara Bersih: From Wisdom to Impactful Action” yang digelar Bicara Udara bersama Guidelight di Universitas Indonesia, Jumat (19/6/2026). Forum tersebut menyoroti peran mahasiswa dalam merespons persoalan kualitas udara yang masih menjadi tantangan di berbagai kota di Indonesia.

Data dari studi Better Air, Better Indonesia (2023) mencatat rata-rata konsentrasi PM2.5 di Indonesia mencapai 39,6 mikrogram per meter kubik—melampaui batas aman yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini disebut tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kemampuan kognitif dan kesehatan mental, terutama pada kelompok usia muda.

Kampus dinilai punya peran strategis

Potret Forum Diskusi "Akademi Udara Bersih: From Wisdom to Impactful Action" yang digelar Bicara Udara bersama Guidelight di Universitas Indonesia pada Jumat (19/6/2026) (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)

Manajer Operasional Data dan Pengembangan Layanan UI GreenMetric, Rahmi, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang mahasiswa terhadap isu lingkungan.

“Kampus adalah tempat yang tepat untuk menumbuhkan kepedulian sekaligus kemampuan berpikir kritis. Ketika mahasiswa memahami dampak polusi udara berdasarkan data dan fakta, mereka perlu didorong untuk mencari solusi berupa ide dan usulan kebijakan,” kata Rahmi.

Sementara itu, City Advisor Breathe Jakarta-C40, Fadhil Firdaus, menilai generasi muda memiliki peluang besar untuk terlibat dalam proses perubahan, termasuk melalui penelitian dan advokasi publik.

“Anak muda punya kesempatan besar untuk berkontribusi, baik lewat riset, inovasi, maupun keterlibatan dalam proses kebijakan. Semakin banyak yang terlibat, semakin besar peluang menciptakan perubahan,” ujarnya.

Kesadaran meningkat, tantangan masih ada

Baca Juga: Dari Plastik jadi Energi: Bagaimana Get Plastic Dorong Perubahan Cara Pandang tentang Sampah?

Di sisi lain, Duta Biru Voices Bicara Udara, Tarida Gitaputri Butar-butar, mengatakan kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan mulai meningkat, meski pemahaman teknis soal polusi udara masih terbatas.

Menurutnya, sejumlah anak muda sudah mulai mengadopsi gaya hidup yang lebih ramah lingkungan, seperti menggunakan transportasi publik. Namun, ia menekankan bahwa isu kualitas udara tidak bisa hanya dibebankan pada perubahan perilaku individu.

“Ini sebenarnya shared responsibility. Pemerintah juga punya peran besar untuk menghadirkan perubahan lewat kebijakan,” kata Tarida.

Para pembicara menilai, tantangan utama saat ini adalah memperluas ruang partisipasi anak muda agar tidak berhenti pada kesadaran, tetapi juga masuk ke proses pengambilan keputusan dan kebijakan publik.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More