- Psikolog Saskhya Aulia Prima menyarankan anak melakukan aktivitas fisik menantang saat liburan guna membentuk kemandirian dan ketangguhan mental.
- Orang tua perlu menerapkan konsep pendampingan aman agar anak tetap bebas bereksplorasi namun tetap terjaga saat membutuhkan bantuan.
- Cap Kaki Tiga Anak hadir mendukung eksplorasi fisik dengan membantu meredakan gejala panas dalam setelah anak aktif bermain.
Suara.com - Liburan sekolah sering kali menjadi momen yang ditunggu anak-anak. Namun, di balik kegembiraan itu, banyak orang tua menghadapi dilema.
Di satu sisi, mereka ingin anak lebih aktif bermain di luar rumah dan terlepas sejenak dari gawai. Di sisi lain, ada kekhawatiran anak kelelahan, mengalami panas dalam, atau jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu.
Padahal, menurut Psikolog Anak dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, M.Psi., Psikolog, masa liburan justru menjadi kesempatan penting bagi anak untuk mengembangkan berbagai keterampilan hidup melalui aktivitas eksploratif.
"Yang paling dibutuhkan anak di masa libur sekolah adalah ruang untuk bergerak bebas lewat adventurous play. Ini adalah jenis permainan yang sedikit menantang dan seru, seperti berlari bebas atau memanjat, namun tetap dalam kendali," ujar Saskhya.
Melalui permainan semacam itu, anak belajar menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, hingga bangkit ketika mengalami kegagalan. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang tangguh dan mandiri.
"Pengalaman menghadapi risiko secara langsung adalah bekal utama untuk membentuk mental anak yang tangguh dan mandiri," katanya.
Menurut Saskhya, terlalu banyak larangan dengan tujuan melindungi justru dapat mengirimkan pesan bahwa dunia adalah tempat yang menakutkan dan anak tidak cukup mampu menghadapinya.
Sebaliknya, ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal baru dalam batas yang aman, mereka akan belajar mempercayai kemampuan dirinya sendiri.
Menariknya, bermain aktif juga berkaitan dengan kesehatan mental anak. Saskhya mengungkapkan, survei dari University of Exeter terhadap sekitar 2.500 orang tua menemukan bahwa anak yang terbiasa melakukan permainan fisik yang menantang memiliki tingkat gejala kecemasan dan depresi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Panutan: Cara Anak Sulung Mengembangkan Diri Bersama di Persulungan
Meski demikian, memberi kebebasan bukan berarti melepas tanpa pengawasan. Orang tua tetap memiliki peran penting sebagai pendamping yang memberikan rasa aman.
Saskhya menyarankan penerapan konsep supervision partnership. Orang tua tidak harus terus berada di samping anak atau mengontrol setiap aktivitasnya. Yang lebih penting adalah memastikan kehadiran mereka tetap dapat dijangkau ketika anak membutuhkan bantuan.
"Ibu cukup menjadi secure base dan safe haven bagi anak. Berikan ruang agar mereka bebas bermain, namun pastikan mereka tahu bahwa orang tuanya selalu ada ketika dibutuhkan," jelasnya.
Selain itu, orang tua juga perlu peka terhadap kondisi fisik anak. Di usia sekolah, kemampuan anak mengenali sinyal tubuhnya sendiri belum berkembang sempurna. Saat terlalu asyik bermain, mereka sering kali tidak menyadari bahwa tubuh mulai lelah atau kekurangan cairan.
Akibatnya, tanda-tanda awal dehidrasi bisa muncul dalam bentuk perubahan perilaku, seperti anak menjadi lebih rewel, mudah marah, atau tampak lesu.
"Perubahan sikap mendadak ini sebenarnya adalah alarm awal bahwa tubuh mereka mulai membutuhkan bantuan," ujar Saskhya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh