Mikroplastik Ditemukan dalam Darah, Plasenta, hingga Otak: Apa yang Sudah Diketahui Ilmuwan?

Senin, 13 Juli 2026 | 14:59 WIB
Mikroplastik. (Dok: Elements Envanto)
  • Peneliti Belanda pada 2022 menemukan mikroplastik dalam darah manusia, yang kini tersebar ke berbagai organ serta jaringan tubuh.
  • Plastik masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan, air minum, dan udara yang mengandung partikel mikro serta nanoplastik berbahaya.
  • Temuan awal mengaitkan mikroplastik dengan risiko penyakit kardiovaskular, namun penelitian dampaknya terhadap kesehatan manusia masih terus dilakukan ilmuwan.

Suara.com - Selama bertahun-tahun, mikroplastik dikenal sebagai pencemar yang memenuhi laut, sungai, dan tanah. Kini, bukti ilmiah menunjukkan partikel plastik berukuran sangat kecil itu juga telah masuk ke dalam tubuh manusia.

Studi yang dipublikasikan peneliti dari Belanda pada 2022 menjadi penelitian pertama yang berhasil mengukur keberadaan mikroplastik di dalam darah manusia.

Penelitian tersebut menemukan sebagian besar sampel darah mengandung partikel plastik, terutama polyethylene terephthalate (PET) yang umum digunakan pada botol minuman, polyethylene dari kantong plastik, serta polystyrene yang banyak dipakai sebagai wadah makanan sekali pakai.

Sejak temuan itu, berbagai penelitian lanjutan di sejumlah negara juga melaporkan mikroplastik ditemukan pada plasenta, air susu ibu (ASI), cairan serebrospinal yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang, cairan semen, hingga plak pembuluh darah.

Bagaimana plastik masuk ke tubuh?

Ilustrasi mikroplastik di laut (Freepik)

Menurut berbagai penelitian yang dirangkum dalam artikel tersebut, ukuran mikroplastik bahkan lebih kecil daripada sel darah merah. Karena sangat kecil, partikel tersebut dapat menembus dinding usus setelah tertelan melalui makanan dan minuman, atau masuk melalui paru-paru saat manusia menghirup udara yang mengandung debu plastik. Setelah berada di aliran darah, partikel tersebut dapat terbawa menuju berbagai organ tubuh.

Paparan mikroplastik ternyata berasal dari aktivitas sehari-hari. Earth Times dalam tinjauan berbagai studi biomonitoring manusia menyebut PET, polyethylene, polypropylene, dan polystyrene menjadi jenis plastik yang paling sering ditemukan di jaringan tubuh karena memang mendominasi produksi plastik dunia.

Botol plastik yang terkena panas diketahui melepaskan lebih banyak partikel PET. Wadah makanan plastik dapat melepaskan polypropylene dan polystyrene ketika bersentuhan dengan makanan panas. Bahkan, studi Columbia University pada 2024 menemukan sekitar 240 ribu partikel plastik per liter pada air minum dalam kemasan, sebagian besar berupa nanoplastik yang ukurannya cukup kecil untuk memasuki sel.

Apa dampaknya bagi kesehatan?

Para ilmuwan menegaskan bahwa dampak jangka panjang mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih terus diteliti. Namun, sejumlah hasil penelitian mulai menunjukkan adanya hubungan yang perlu diwaspadai.

Salah satunya adalah penelitian di Italia terhadap pasien yang menjalani operasi penyumbatan arteri karotis. Penelitian tersebut menemukan mikroplastik pada plak pembuluh darah, dan pasien yang memiliki partikel plastik tersebut tercatat lebih berisiko mengalami serangan jantung, stroke, atau meninggal dibandingkan pasien yang tidak memilikinya. Meski demikian, peneliti menegaskan hubungan tersebut belum membuktikan bahwa mikroplastik menjadi penyebab langsung penyakit tersebut.

Sementara itu, berbagai penelitian pada hewan dan kultur sel menunjukkan mikroplastik dapat memicu peradangan kronis, stres oksidatif, gangguan fungsi mitokondria, hingga membawa berbagai bahan kimia tambahan seperti ftalat, bisfenol, dan PFAS yang diketahui dapat mengganggu sistem hormon manusia.

Namun, seperti dijelaskan BBC dalam ulasan ilmiahnya pada 2025, bukti terkuat pada manusia saat ini masih terbatas pada kaitan mikroplastik dengan penyakit kardiovaskular. Dugaan hubungan dengan Alzheimer, Parkinson, gangguan kesuburan, maupun gangguan perkembangan anak masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Karena itu, para peneliti kini tidak hanya berupaya memahami dampaknya terhadap kesehatan, tetapi juga menyusun metode pengukuran yang lebih seragam dan mencari cara mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, persoalan plastik kini tidak lagi berhenti sebagai isu pencemaran lingkungan, melainkan mulai menjadi perhatian baru dalam kesehatan manusia.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com