News / Nasional
Selasa, 07 Juli 2026 | 13:16 WIB
Komisioner Kompolnas mengecek langsung tempat kejadian perkara (TKP) meninggalnya anggota Polres Katingan, Kalimantan Tengah, saat sedang bertugas. (ANTARA/HO-Kompolnas)
Baca 10 detik
  • Kompolnas menemukan bukti tiga anggota Polri tewas dibunuh sebelum jasadnya dibuang ke sungai saat operasi narkoba di Katingan.
  • Temuan ceceran darah di lokasi kejadian membantah dugaan awal bahwa korban meninggal karena tenggelam saat menghindari serangan pelaku.
  • Polisi telah menangkap tiga pelaku dan terus mengejar bandar utama untuk membongkar jaringan narkoba di balik tragedi tersebut.

Suara.com - Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap temuan awal di balik kematian tiga anggota Polri saat operasi pemberantasan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Berdasarkan penelusuran di lokasi, ketiga polisi diduga dibunuh lebih dulu sebelum jasadnya dibuang ke sungai.

Komisioner Kompolnas Supardi Hamid mengatakan kesimpulan sementara itu diperoleh setelah tim menemukan sejumlah bukti di tempat kejadian perkara, termasuk ceceran darah yang mengarah hingga ke tepian sungai.

“Bahwa para korban ini dihabisi, dibunuh sebelum mereka dibuang ke sungai,” kata Supardi kepada wartawan, Selasa (7/7/2026).

Menurut Supardi, temuan tersebut membantah dugaan sebelumnya yang menyebut para anggota Polri tewas akibat tenggelam saat berusaha menyelamatkan diri dari serangan kelompok bandar narkoba.

“Bahwa tesis bahwa para korban ini melarikan diri ke sungai dan kemudian mati tenggelam adalah tidak terbukti, justru terbantahkan,” ujarnya.

Ia menilai aksi tersebut merupakan pembunuhan yang dilakukan secara sengaja terhadap aparat kepolisian yang sedang menjalankan tugas.

“Artinya, ini adalah secara jelas masuk ke dalam kategori intentionally killing yang dilakukan oleh para bandar narkoba ini. Untuk menghabisi para petugas kepolisian dan baru kemudian dibuang ke sungai,” jelasnya.

Terduga pelaku berinisial A saat diamankan tim gabungan di sebuah lanting sedot emas, kawasan Desa Tumbang Pariyei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Jumat (3/7/2026). ANTARA/Dokumentasi pribadi.

Sementara Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan pengungkapan kasus tidak boleh berhenti pada pelaku yang menyerang polisi di lapangan. Menurut dia, aparat harus membongkar hingga ke gembong dan jaringan distribusi narkoba yang berada di balik peristiwa tersebut.

Baca Juga: Kenapa Warga Bela Bandar Narkoba? Bedah Kasus Katingan yang Tewaskan Aipda Yudhi Perdana

“Peristiwa ini harus menjadi satu spirit baru yang semakin mengencangkan pemberantasan narkoba,” tegas Anam.

Ia juga mengungkapkan, hasil penelusuran Kompolnas menunjukkan para pelaku tetap mengejar anggota kepolisian meski petugas telah mundur untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak.

“Oleh karenanya, memberantas narkoba dalam konteks ini tidak boleh kendor, harus tetap maju,” ucap Anam.

Sebelumnya, Polres Katingan telah menangkap tiga terduga pelaku berinisial S, N, dan R yang diduga menyerang anggota kepolisian menggunakan parang saat operasi berlangsung.

Polisi masih memburu target utama, bandar sabu berinisial BIO, serta mendalami peran masing-masing pelaku.

Tragedi tersebut juga memicu desakan dari DPR agar Mabes Polri turun tangan langsung membongkar seluruh jaringan narkotika di balik penyerangan yang menewaskan Aipda Yudhie Perdana Putra, Aiptu Sumaryanto, dan Bripda Nopandri Ramadhana.

Load More