Suara.com - Plastik yang kita gunakan setiap hari tidak benar-benar hilang setelah dibuang. Seiring waktu, plastik akan terurai menjadi potongan-potongan yang semakin kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.
Kini, para ilmuwan juga menemukan partikel plastik yang ukurannya jauh lebih kecil, yakni hanya dalam skala nanometer, yang disebut sebagai nanoplastik.
Ukurannya yang sangat kecil membuat nanoplastik sulit dideteksi. Selain itu, keterbatasan teknologi selama ini membuat para ilmuwan kesulitan mengetahui seberapa banyak nanoplastik yang tersebar di lingkungan maupun memahami dampaknya terhadap kesehatan manusia dan ekosistem.
Teknologi Baru Bantu Deteksi Nanoplastik
Namun, kondisi tersebut mulai berubah berkat penelitian terbaru dari University of Amsterdam. Penelitian berjudul "Analytical approaches for studying occurrence and fate of environmental micro- and nanoplastics" menghadirkan metode baru yang memungkinkan nanoplastik dideteksi dan diidentifikasi dengan lebih akurat. Terobosan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penyebaran nanoplastik sekaligus membantu para peneliti memahami potensi risikonya di masa depan.
Selama ini, sebagian besar teknik analisis yang digunakan untuk mengukur mikroplastik belum mampu bekerja secara optimal untuk mendeteksi nanoplastik.
“Banyak teknik yang sudah digunakan untuk mikroplastik, tetapi biasanya tidak berfungsi untuk nanoplastik,” ujar salah satu peneliti, Maria Hayder.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti menggabungkan dua teknik analisis, yaitu pemisahan partikel berdasarkan ukuran dan identifikasi kimia untuk mengenali jenis plastik yang berbeda. Dengan pendekatan ini, nanoplastik dapat diukur secara lebih rinci, termasuk pada sampel air limbah.
Metode tersebut kemudian digunakan untuk mempelajari bagaimana berbagai jenis plastik yang telah terpapar air tawar dan air laut selama bertahun-tahun mengalami degradasi. Hasilnya menunjukkan bahwa nanoplastik terbentuk baik di lingkungan air tawar maupun laut. Menariknya, plastik tidak terurai secara bertahap menjadi partikel yang semakin kecil, melainkan menghasilkan partikel dengan berbagai ukuran yang tersebar pada berbagai kedalaman air.
Baca Juga: Bisakah Plastik Dibuat Lebih Mudah Terurai? Penelitian Baru Tawarkan Pendekatan Lewat Upcycling
Tak Hanya Berasal dari Makanan Laut
Maria menjelaskan bahwa penelitian mengenai paparan nanoplastik selama ini masih banyak berfokus pada makanan laut. Padahal, sumber paparan lain yang lebih sering dikonsumsi masyarakat justru belum banyak diteliti.
“Cukup banyak penelitian telah dilakukan pada makanan laut, sementara komponen penting lainnya dalam diet kita, seperti buah, sayuran, dan biji-bijian, kurang mendapat perhatian,” jelas Maria.
Selain meneliti sumber paparan, tim peneliti juga mensimulasikan proses pencernaan manusia di laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa nanoplastik cenderung menggumpal akibat aktivitas enzim pencernaan. Penggumpalan tersebut diperkirakan dapat mengurangi peluang partikel menembus dinding usus, meskipun mekanisme ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Melalui metode pengukuran yang lebih akurat dan seragam, para ilmuwan berharap dapat memperoleh data yang lebih konsisten. Data tersebut akan menjadi dasar penting untuk memahami penyebaran nanoplastik sekaligus menyusun kebijakan yang lebih efektif dalam mengurangi pencemaran plastik di masa depan.
“Pendekatan kami belum sempurna, tetapi ini merupakan langkah yang baik menuju pengukuran nanoplastik yang jauh lebih tepat di masa mendatang. Hal ini akan sangat penting dalam membantu kita memperkirakan penyebarannya dan potensi risiko kesehatannya,” tutup Maria.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
-
Penelitian Ungkap Mikroplastik Kini Ditemukan di Awan, Berpotensi Pengaruhi Iklim
-
Cup Plastik di Meja Anda: Boleh Ditinggal atau Harus Dibuang Sendiri?
-
Bioplastik Digadang Jadi Pengganti Plastik Konvensional: Benarkah Bisa Terurai Lebih Cepat?
-
Bisakah Plastik Dibuat Lebih Mudah Terurai? Penelitian Baru Tawarkan Pendekatan Lewat Upcycling
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Liburan Agustus Lebih Hemat! Ada Diskon di Wisata Nako Pasir Angin Bareng BRI
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9