- Pasangan dengan kondisi medis kompleks berhasil memiliki anak melalui program bayi tabung di Morula IVF Indonesia.
- Evaluasi medis mendalam sangat krusial dalam menentukan penanganan infertilitas yang tepat bagi setiap pasangan dengan kondisi unik.
- Morula IVF Indonesia akan menyelenggarakan acara perayaan 28 tahun pada 25-26 Juli 2026 di Pullman Central Park Jakarta.
Suara.com - Memiliki anak melalui program bayi tabung bukanlah perjalanan yang selalu berjalan lurus. Bagi sebagian pasangan, proses tersebut dapat menjadi perjalanan panjang yang diwarnai berbagai tantangan medis, kegagalan, hingga penantian bertahun-tahun.
Namun, di tengah berbagai kondisi yang dapat memengaruhi kesuburan, harapan untuk memiliki buah hati tetap dapat diperjuangkan melalui penanganan yang tepat dan pendampingan medis.
Hal itu tercermin dari kisah sejumlah pasangan yang menjalani program IVF di Morula IVF Indonesia. Salah satunya Mom Dini dan Dad Hakim yang harus menanti selama lima tahun setelah mengalami keguguran berulang.
Di usia Mom Dini yang telah menginjak 45 tahun, kehamilan akhirnya hadir dan menjadi penantian yang sangat berarti bagi keduanya.
Kisah serupa juga dialami Mom Reno Intan dan Dad Hendrik. Selama 11 tahun, pasangan ini berusaha memiliki anak di tengah kondisi medis yang kompleks. Dad Hendrik bahkan sempat dinyatakan tidak memiliki sperma, sementara Mom Reno Intan menghadapi kondisi seperti miom dan polip.
Mereka telah menjalani enam kali program IVF, termasuk mengalami kegagalan saat menjalani pengobatan di luar negeri.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa masalah kesuburan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi perempuan maupun laki-laki.
Faktor usia, kualitas sel telur dan sperma, kondisi rahim, hingga riwayat keguguran dapat menjadi bagian dari evaluasi medis dalam menentukan penanganan yang sesuai.
Di usia lebih dari 40 tahun, Mom Sherly dan Dad Judyarno juga sempat menjalani program bayi tabung di Singapura. Setelah beberapa kali usaha belum membuahkan hasil, mereka kemudian melanjutkan perjalanan di Morula IVF Indonesia hingga akhirnya berhasil hamil dan melahirkan.
Sementara itu, Mom Mina dan Dad Yusuf dari Sumenep, Madura, harus menunggu selama 22 tahun untuk memiliki anak.
Dengan kondisi AMH yang sangat rendah, yakni 0,1, peluang tersebut sempat terasa kecil. Namun, setelah menjalani program bayi tabung, mereka berhasil hamil dan dikaruniai anak kembar.
Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan fertilitas setiap pasangan bersifat unik. Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis menjadi bagian penting untuk memahami kondisi kesehatan reproduksi dan menentukan pilihan penanganan yang sesuai.
Selama 28 tahun, Morula IVF Indonesia berupaya mendampingi pasangan dalam perjalanan tersebut. Dalam rangka memperingati 28 tahun perjalanannya, Morula IVF Indonesia akan menggelar acara bertema “28 Years of Delivering Hope” pada 25–26 Juli 2026 di Pullman Central Park Jakarta.
Acara ini menghadirkan 28 dokter spesialis obgyn serta ruang konsultasi bagi pasangan untuk memperoleh informasi dan pendampingan terkait program fertilitas.
Morula juga menyiapkan sejumlah program apresiasi, termasuk 20 program IVF gratis dengan 8 gram logam mulia, potongan biaya IVF hingga Rp28 juta, serta program Free Lifetime PGT-A untuk satu embrio hingga melahirkan, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku.