Health / Parenting
Selasa, 19 Mei 2026 | 12:03 WIB
Rifky Alhabsyi dan Istri. (Instagram/@rifkyalhabsyi)
Baca 10 detik
  • Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani dikaruniai putra pertama setelah menanti selama sembilan tahun melalui program bayi tabung.
  • Pasangan ini menjalani prosedur bayi tabung di Smart Fertility Clinic setelah Yulia melakukan operasi pengangkatan tuba falopi.
  • Persalinan bayi dilakukan di Primaya Evasari Hospital menggunakan metode ERACS untuk mempercepat pemulihan kesehatan sang ibu.

Suara.com - Setelah sembilan tahun menanti kehadiran buah hati, kebahagiaan akhirnya datang untuk Rifky Alhabsyi dan sang istri, Yulia Rahmayani. Pasangan ini resmi menyambut kelahiran putra pertama mereka, Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi, melalui program bayi tabung (IVF) yang dijalani bersama Smart Fertility Clinic dan proses persalinan di Primaya Evasari Hospital.

Rifky Alhabsyi sendiri dikenal sebagai publik figur dan kreator konten yang cukup aktif membagikan perjalanan hidupnya di media sosial. Namun di balik kesehariannya yang kerap terlihat santai, Rifky dan sang istri ternyata menyimpan perjuangan panjang dalam menghadapi masalah infertilitas selama hampir satu dekade.

Perjalanan mendapatkan buah hati tidak mudah bagi pasangan ini. Yulia diketahui mengalami gangguan pada saluran reproduksi hingga harus menjalani operasi pengangkatan kedua tuba falopi (salpingektomi). Kondisi tersebut membuat kehamilan alami maupun inseminasi tidak memungkinkan, sehingga program IVF menjadi satu-satunya harapan mereka untuk memiliki anak.

Meski sudah mempertimbangkan program bayi tabung sejak 2022, Rifky dan Yulia baru benar-benar siap secara mental untuk memulai proses IVF pada 2025. Program dimulai lewat prosedur Ovum Pick Up (OPU) pada Februari 2025 dan dilanjutkan dengan Frozen Embryo Transfer (FET) pada September 2025. Dua minggu setelah transfer embrio, kabar yang ditunggu-tunggu akhirnya datang: tanda awal kehamilan mulai terlihat.

“Perjalanan kami untuk mendapatkan buah hati bukan proses yang mudah. Selama bertahun-tahun kami belajar untuk tetap kuat, pasrah namun tidak menyerah, dan saling mendukung satu sama lain,” ujar Rifky.

Ia mengungkapkan, setelah operasi pengangkatan tuba falopi, dirinya dan sang istri sempat mencari referensi dari tujuh dokter hingga satu profesor sebelum akhirnya memutuskan menjalani program IVF bersama Smart Fertility Clinic.

“Alhamdulillah akhirnya berjodoh dengan Smart Fertility Clinic. Kami juga memilih Primaya Evasari Hospital sebagai tempat persalinan karena sejak awal datang sudah terasa homey, nyaman, dan memiliki layanan yang lengkap,” lanjutnya.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., menjelaskan bahwa kasus yang dialami Yulia memang membutuhkan penanganan IVF sebagai solusi utama untuk mendapatkan kehamilan.

“Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan,” jelas dr. Darma.

Baca Juga: Rahim Sehat, Sarwendah Sebut Ada 'Permintaan' Soal Program Bayi Tabungnya?

Ia juga mengaku terkesan dengan perjuangan Rifky dan Yulia yang tetap optimistis selama proses program berlangsung. Bahkan dalam kasus tersebut, hanya ada satu embrio yang berhasil berkembang hingga akhirnya menjadi kehamilan yang sehat.

“Kehamilan yang terjadi benar-benar menjadi anugerah yang sangat berarti,” tambahnya.

Tak hanya proses IVF, masa persalinan Yulia juga mendapat pendampingan maternal terintegrasi di Primaya Evasari Hospital. Yulia menjalani metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang dikombinasikan dengan TAP Block untuk membantu mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat pemulihan.

Rifky pun mengaku bersyukur bisa mendampingi langsung proses persalinan sang istri.

“Saya bahkan bisa ikut mendampingi proses persalinan, sehingga menjadi momen yang sangat berharga bagi kami berdua,” katanya.

Kini, kehadiran sang buah hati menjadi jawaban atas penantian panjang yang selama ini mereka perjuangkan bersama. Kisah Rifky dan Yulia pun menjadi pengingat bagi banyak pasangan pejuang garis dua bahwa harapan untuk memiliki anak tetap terbuka lewat pendampingan medis dan dukungan yang tepat.

Load More