- Singapore General Hospital mengembangkan pendekatan tanpa biopsi, biopsi transperineal aman, dan operasi robotik minim sayatan untuk kanker prostat.
- Pria berusia 45 tahun ke atas disarankan melakukan tes darah PSA rutin karena stadium awal kanker sering tanpa gejala.
- Sekitar 90 persen pasien operasi robotik SGH dapat pulang dalam 23 jam dan melakukan kontrol lanjutan jarak jauh.
Biopsi Kini Jauh Lebih Aman
Bila biopsi tetap diperlukan, teknologinya pun telah berkembang.
Metode lama mengambil sampel jaringan melalui rektum sehingga berisiko membawa bakteri masuk ke prostat dan menyebabkan infeksi.
Kini, SGH menggunakan robotic-assisted transperineal biopsy, yaitu biopsi melalui kulit di area antara skrotum dan anus. Jalur ini jauh lebih bersih sehingga risiko infeksi menurun drastis.
Teknologi yang dikembangkan di Singapura tersebut kini telah digunakan di berbagai negara Asia, Australia, hingga Eropa.
Operasi Robotik dengan Sayatan Lebih Sedikit
Bagi banyak pasien, kata "operasi" masih terdengar menakutkan. Padahal, teknik operasi kanker prostat saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
SGH menggunakan operasi robotik dengan pendekatan extraperitoneal, yaitu dilakukan tanpa melewati rongga perut tempat usus berada.
Dengan cara ini, gangguan pada saluran pencernaan menjadi lebih minimal sehingga pasien biasanya lebih cepat makan, berjalan, dan pulih.
"Tujuan kami adalah membuat operasi menjadi lebih aman, nyaman, dan pemulihan berlangsung lebih cepat," ujar A/Prof John.
Tak hanya itu, jumlah sayatan juga jauh lebih sedikit. Jika operasi robotik konvensional membutuhkan lima hingga enam sayatan, teknik terbaru di SGH memungkinkan tindakan dilakukan hanya melalui satu hingga tiga sayatan kecil pada pasien yang memenuhi syarat.
Bekas luka menjadi lebih kecil, rasa nyeri berkurang, dan proses penyembuhan berlangsung lebih cepat.
Bisa Pulang di Hari yang Sama
Hal yang dulu terasa mustahil kini menjadi kenyataan.
Sekitar 90 persen pasien yang menjalani operasi robotik kanker prostat di SGH memenuhi syarat untuk pulang dalam waktu kurang dari 23 jam setelah operasi.
Namun, keputusan pulang bukan karena ingin mempercepat pergantian tempat tidur rumah sakit.
"Kami hanya mengizinkan pasien pulang bila mereka sudah bisa makan, minum, berjalan sendiri, nyerinya terkendali, dan tidak ada tanda komplikasi," tegas A/Prof John.
Bagi pasien internasional, termasuk dari Indonesia, pasien umumnya tetap berada di Singapura sekitar 10 hari hingga kateter dilepas dan dokter memastikan kondisi benar-benar stabil sebelum diperbolehkan terbang pulang.
Perawatan Tak Berhenti Setelah Operasi
Setelah kembali ke negara asal, pasien tidak harus selalu datang lagi ke Singapura.
Kontrol lanjutan umumnya dilakukan sekitar dua bulan setelah operasi melalui pemeriksaan PSA. Hasil tes dapat dilakukan di negara asal lalu dikirim kepada tim dokter SGH untuk dievaluasi.
Jika ditemukan kondisi yang memerlukan pemeriksaan langsung, barulah pasien disarankan kembali ke Singapura.
Sebagai rumah sakit tertua sekaligus flagship hospital dalam jaringan SingHealth, SGH memiliki sekitar 20 dokter spesialis urologi yang menangani berbagai penyakit saluran kemih dan reproduksi pria.
Setiap tahun, rumah sakit ini melakukan sekitar 300 operasi kanker prostat, dengan sekitar 20–30 persen pasien berasal dari luar negeri.
Selain memberikan layanan klinis, SGH juga aktif melakukan penelitian dan mengembangkan teknologi baru, termasuk sistem biopsi robotik yang kini telah digunakan di berbagai negara.
Bagi masyarakat awam, pesan terpenting bukanlah soal secanggih apa teknologi yang tersedia, melainkan pentingnya tidak menunggu gejala muncul.
Sebab, semakin cepat kanker prostat ditemukan, semakin besar peluang pasien menjalani pengobatan yang lebih ringan, pemulihan yang lebih cepat, dan kualitas hidup yang tetap terjaga.