Kenali Metode MICS, Operasi Bypass Jantung yang Tak Selalu Harus Belah Tulang Dada

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 14:03 WIB
Ilustrasi operasi bypass jantung. (dok. Heartology Cardiovascular Hospital)
  • Heartology Cardiovascular Hospital mengenalkan metode Minimal Invasive Cardiac Surgery untuk operasi bypass jantung tanpa membelah tulang dada.
  • Metode MICS terbukti mampu mencapai tingkat keberhasilan revaskularisasi komplit yang sebanding dengan prosedur operasi jantung konvensional.
  • Pendekatan minimal invasif ini mampu menekan jumlah perdarahan intraoperasi serta mendukung proses pemulihan pasien menjadi lebih efisien.

Suara.com - Operasi jantung kerap identik dengan prosedur besar yang membutuhkan pembukaan tulang dada. Namun, perkembangan teknologi dan teknik bedah kini memungkinkan sejumlah tindakan jantung dilakukan dengan pendekatan yang lebih minimal invasif.

Salah satunya adalah Minimal Invasive Cardiac Surgery (MICS), metode yang dapat digunakan dalam tindakan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) atau operasi bypass jantung.

Operasi bypass jantung dilakukan untuk membuat jalur baru bagi aliran darah sehingga darah dapat melewati pembuluh darah koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Dengan demikian, suplai darah dan oksigen ke otot jantung dapat kembali mengalir dengan lebih baik.

Pada metode konvensional, operasi bypass umumnya dilakukan melalui sternotomi, yaitu dengan membelah tulang dada untuk mendapatkan akses ke jantung. Sementara pada pendekatan MICS, dokter menggunakan sayatan yang lebih kecil dan tidak perlu membelah tulang dada.

Menurut dr. Widya Trianita Suwatri, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), dokter spesialis bedah toraks, kardiak, dan vaskular Heartology Cardiovascular Hospital, perbedaan tersebut dapat berpengaruh terhadap proses pemulihan pasien.

“Pada operasi konvensional, tulang dada (sternum) yang dibelah membutuhkan waktu untuk menyatu dan proses penyembuhannya dapat berlangsung hingga sekitar 12 minggu. Pada MICS, tulang dada (sternum) tetap utuh,” ujar Widya.

Dengan sternum yang tetap utuh, pasien tidak perlu menjalani proses penyembuhan tulang dada setelah operasi. Kondisi ini juga dapat mengurangi risiko komplikasi yang berkaitan dengan tulang dada, termasuk infeksi tulang dada.

Bukan Sekadar Sayatan Lebih Kecil

MICS bukan sekadar membuat luka operasi menjadi lebih kecil. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah apakah pendekatan tersebut tetap mampu mencapai tujuan utama operasi bypass, yakni melakukan revaskularisasi pada pembuluh darah jantung yang membutuhkan penanganan.

Studi yang membandingkan MICS CABG dengan CABG konvensional melalui sternotomi pada pasien dengan multivessel disease menunjukkan hasil yang relatif sebanding.

Dalam studi tersebut, 95,5 persen pasien MICS CABG berhasil mendapatkan complete revascularization, dibandingkan 96,3 persen pada kelompok yang menjalani operasi melalui sternotomi.

Artinya, meskipun dilakukan dengan akses yang lebih minimal invasif, tindakan bypass tetap diarahkan untuk mencapai revaskularisasi komplit pada pembuluh darah target.

Evaluasi angiografi yang dilakukan setelah operasi dan sebelum pasien pulang juga menunjukkan 96,2 persen graft pada kelompok MICS CABG berada dalam kondisi baik.

“Sayatan yang lebih kecil tidak berarti bypass yang dilakukan menjadi lebih sedikit atau kurang optimal. Tujuan utama operasi tetap tercapai, yaitu membuat jalur baru agar darah dapat melewati pembuluh darah koroner yang tersumbat dan kembali menyuplai otot jantung,” jelas Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV, Subsp. JD(K), MARS.

Berpotensi Mendukung Pemulihan

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com