Jalur Darat Terputus Total, Helikopter Jadi Tumpuan Evakuasi Korban Banjir Bandang Nepal

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 14:38 WIB
Tanah longsor di Nepal - Tibet (EPA)
  • Banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Himalaya menewaskan lebih dari 470 orang.

  • Ancaman jebolnya danau buatan memicu penghentian sementara operasi evakuasi di wilayah perbatasan.

  • Nepal mengoptimalkan personel keamanan domestik dan memprioritaskan bantuan finansial untuk pemulihan pascabencana.

Suara.com - Jumlah kematian akibat banjir bandang di perbatasan Nepal dan kawasan Tibet meroket melewati 470 jiwa di tengah ancaman bencana susulan. Krisis kemanusiaan ini kian mengkhawatirkan setelah material banjir membendung aliran sungai dan membentuk danau buatan berpotensi jebol.

Kantor Perdana Menteri Nepal mengonfirmasi sebanyak 469 warganya tewas dan 977 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara itu, otoritas China mencatat sedikitnya tiga warga tewas serta 558 orang belum ditemukan di wilayah Tibet.

Pemerintah Nepal mengidentifikasi 644 warga asing masuk dalam daftar korban hilang di lokasi terdampak. Hingga saat ini, tim gabungan baru berhasil menyelamatkan sekitar 1.550 penyintas dari berbagai titik bahaya.

Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet melenyapkan rombongan pendaki berisi 47 orang. (ABC)

Tragedi bermula dari runtuhnya gletser raksasa yang menerjang lembah sungai Himalaya dengan endapan es, batu, serta lumpur tebal. Lupan material tersebut seketika mengubur pemukiman warga dan memutus infrastruktur transportasi hingga pembangkit listrik.

Akses darat menuju kawasan bencana lumpuh total akibat kerusakan parah di jalur utama transportasi. Presiden Nepal Centre for Disaster Management, Bishal Nath Upreti, menegaskan bahwa kondisi korban yang terisolasi berada dalam tingkat darurat tinggi.

“Hampir 42 km [26 mil] jalan hancur total, dan selain helikopter, tim penyelamat tidak bisa pergi ke sana,” ujar Bishal Nath Upreti.

Petugas memanfaatkan transportasi udara serta jalur darat darurat untuk mengevakuasi ratusan warga yang terjebak. Bishal menjelaskan bahwa pengiriman bantuan logistik terus diupayakan lewat udara agar mencapai wilayah yang terisolasi.

“Mereka sangat putus asa sekarang. Ini sudah lebih dari 72 jam sekarang dan orang-orang sangat membutuhkan … tempat berlindung dan makanan,” kata Bishal Nath Upreti.

Bagaimana Kondisi Operasi Penyelamatan di Area Bencana?

Nepal menerjunkan 30.000 personel keamanan untuk menyisir lembah-lembah terpencil yang belum terjangkau. Jumlah korban hilang diproyeksikan terus meningkat seiring meluasnya area pencarian.

Pemerintah China mengutus Perdana Menteri Li Qiang beserta 500 personel militer dan paramiliter ke area terdampak. Jurnalis Al Jazeera di Beijing, Katrina Yu, menggarisbawahi langkah tak biasa dari pemerintah China tersebut.

“Hal itu sangat, sangat langka dan benar-benar memberi kita gambaran betapa mendesak dan betapa prioritanya operasi ini,” kata Katrina Yu.

Fokus penyelamatan kini terpecah oleh bahaya sekunder dari danau bendungan alami di perbatasan kedua negara. Kedua pemerintah mengeluarkan peringatan dini terkait struktur bendungan debris yang sangat labil.

Otoritas China memperkirakan danau tersebut memuat 2 juta meter kubik air dan berpotensi bertambah 3 juta meter kubik lagi. Kondisi ini meningkatkan risiko bahaya bagi tim SAR yang sedang bertugas di lapangan.

Operasi evakuasi di Pelabuhan Gyirong terpaksa dihentikan sementara demi keselamatan para petugas. Wilayah perbatasan tersebut saat ini tertimbun lumpur pekat dengan kedalaman mencapai 1,5 meter.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com