- Studi tahun 2025 pada 3.597 orang dewasa di Indonesia menemukan osteoartritis lutut pada sekitar 15 persen peserta.
- Profesor Nicolaas menyatakan perubahan pola gerak akibat nyeri lutut menjadi informasi penting untuk pemeriksaan oleh dokter.
- Operasi penggantian sendi lutut total baru dipertimbangkan jika kerusakan sudah berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari pasien.
Suara.com - Nyeri lutut saat naik tangga kerap dianggap sebagai keluhan biasa, terlebih jika rasa sakitnya masih bisa ditahan. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan pada sendi lutut.
Keluhan biasanya muncul perlahan. Seseorang mungkin awalnya hanya merasakan nyeri ketika menaiki tangga, bangkit dari kursi, berjalan jauh, atau setelah melakukan aktivitas tertentu.
Karena belum terlalu mengganggu, respons yang muncul sering kali justru mengurangi aktivitas, seperti memilih menggunakan lift atau menghindari berjalan terlalu jauh.
Studi yang dipublikasikan pada 2025 terhadap 3.597 orang dewasa di 15 kota di Indonesia menemukan osteoartritis lutut pada sekitar 15 persen peserta. Meski demikian, nyeri lutut tidak selalu berarti osteoartritis.
Cedera ligamen atau meniskus, peradangan, gangguan otot, hingga masalah lain pada struktur sendi juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
Prof. Nicolaas C. Budhiparama, MD, PhD, Sp.OT(K), FICS, dokter spesialis ortopedi konsultan yang berfokus pada masalah panggul dan lutut, mengatakan perubahan pola gerak justru menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sakit lutut terasa, tetapi apakah keluhan tersebut sudah mulai mengubah cara seseorang bergerak. Kalau sebelumnya bisa naik tangga atau berjalan jauh lalu perlahan mulai menghindarinya, itu sudah menjadi informasi penting bagi dokter untuk mencari tahu penyebabnya,” ujar Prof. Nicolaas.
Untuk mengetahui penyebabnya, dokter biasanya akan menanyakan pola nyeri, riwayat cedera, aktivitas yang memicu keluhan, hingga sejauh mana nyeri memengaruhi kemampuan bergerak.
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat pergerakan dan kestabilan sendi. Bila diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan seperti rontgen atau MRI.
Namun, hasil pencitraan tidak selalu menggambarkan kondisi pasien secara utuh. Perubahan yang terlihat pada gambar belum tentu sejalan dengan tingkat nyeri atau keterbatasan aktivitas yang dirasakan seseorang. Karena itu, hasil pemeriksaan perlu dibaca bersama kondisi klinis pasien.
Penanganan pun tidak otomatis berujung pada operasi. Pada banyak kasus, dokter dapat memulai dengan penyesuaian aktivitas, latihan penguatan otot, fisioterapi, pengelolaan berat badan, maupun obat sesuai kebutuhan.
Operasi penggantian sendi lutut atau total knee replacement biasanya baru dipertimbangkan ketika kerusakan sendi sudah berat dan mengganggu fungsi.
Beberapa tandanya antara lain nyeri yang muncul setiap hari, kekakuan signifikan, lutut tidak stabil saat berjalan, perubahan bentuk kaki menjadi O atau X, serta rasa sakit yang membatasi aktivitas sehari-hari.
Jika operasi dilakukan dengan bantuan robotik, teknologi dapat membantu dokter melakukan perencanaan secara virtual, menentukan posisi implan, menilai keseimbangan ligamen, hingga memverifikasi hasil pemotongan tulang selama prosedur.
“Operasi penggantian sendi lutut membutuhkan presisi yang tinggi, tetapi teknologi saja tidak cukup. Dalam penggunaan robotik, kami dapat melakukan perencanaan secara virtual, melihat keseimbangan ligamen, hingga memverifikasi hasil pemotongan ketika operasi berlangsung. Namun, semua informasi tersebut tetap harus diterjemahkan oleh dokter berdasarkan anatomi dan kondisi setiap pasien,” jelas Prof. Nicolaas.