- KPCDI mengadakan FGD pada World Patient Safety Day 2026 mengenai pentingnya tata laksana akses vaskular.
- Hampir sembilan puluh persen pasien memulai cuci darah darurat, kebanyakan memakai kateter double-lumen alih-alih AV fistula.
- Pakar kesehatan menekankan perlunya persiapan akses vaskular dini dan sistem rumah sakit yang terstandarisasi demi keselamatan pasien.
Menurut dr. Pringgo, evaluasi dapat mulai dilakukan ketika eGFR berada di kisaran 15–20, sedangkan fistula atau graft dapat mulai dipertimbangkan ketika eGFR mendekati 10–15, dengan tetap menyesuaikan kondisi klinis setiap pasien.
Persiapan lebih awal menjadi penting karena pembuluh darah pasien harus dijaga. Venipunktur berulang, pemasangan infus, maupun tindakan lain pada pembuluh darah dapat mengurangi pilihan vena yang nantinya dibutuhkan untuk pembuatan akses permanen.
Dari perspektif keselamatan pasien, dr. Amelia Martira dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menegaskan bahwa tata laksana akses vaskular tidak boleh bergantung pada keterampilan satu tenaga kesehatan saja.
“Patient safety tidak boleh bergantung pada siapa yang sedang bertugas hari itu. Rumah sakit harus membangun sistem yang membuat pelayanan aman menjadi standar, bukan keberuntungan,” ungkap dr. Amelia.
Menurutnya, rumah sakit perlu memastikan SOP, pencegahan infeksi, kredensial dan rekredensial tenaga kesehatan, evaluasi kompetensi, ketersediaan peralatan, serta evaluasi insiden berjalan secara konsisten.
Pengalaman pasien, termasuk kejadian tusukan berulang, infeksi, kesulitan kanulasi atau masalah rujukan, juga perlu menjadi bagian dari data mutu pelayanan.
Sementara itu, dr. Obrin Parulian dari Kementerian Kesehatan menempatkan persoalan akses vaskular sebagai bagian dari penanganan penyakit ginjal kronis secara menyeluruh. Menurutnya, pasien tidak seharusnya baru mendapatkan perhatian ketika sudah membutuhkan hemodialisis.
“Pendekatannya tidak boleh hanya dimulai saat pasien sudah membutuhkan hemodialisis. Skrining, deteksi dini, pengendalian hipertensi dan diabetes, edukasi, pilihan terapi, sampai persiapan akses harus menjadi satu rangkaian,” jelas dr. Obrin.
Dengan demikian, tata laksana akses vaskular seharusnya dipandang sebagai perjalanan panjang, bukan tindakan yang baru dilakukan ketika kondisi pasien sudah darurat.
Edukasi predialisis, pemilihan akses yang sesuai, preservasi pembuluh darah, pemantauan rutin, deteksi komplikasi, hingga tersedianya jalur rujukan harus berjalan sebagai satu sistem.
Pesan utama FGD KPCDI pun menjadi jelas: keselamatan pasien dialisis tidak dimulai ketika mesin hemodialisis dinyalakan.
Keselamatan dimulai ketika pasien masih memiliki waktu untuk memahami penyakitnya, mengetahui pilihan terapi, mempersiapkan akses, dan mendapatkan pelayanan yang mampu mendeteksi masalah sebelum akses benar-benar gagal.