News / Nasional
Kamis, 23 April 2026 | 17:08 WIB
Ilustrasi krisis kesehatan di Indonesia. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Indonesia menghadapi beban ganda kesehatan akibat lonjakan penyakit kronis serta masih rendahnya cakupan imunisasi dasar anak.
  • Dinas Kesehatan Aceh melaporkan ribuan anak tidak menerima imunisasi, sehingga menyebabkan terjadinya wabah campak dan rubela.
  • Lonjakan kasus gagal ginjal hingga 400 persen menghabiskan anggaran kesehatan sebesar Rp13 triliun setiap tahun bagi negara.

Suara.com - Krisis kesehatan di Indonesia tidak datang tiba-tiba—ia tumbuh pelan, nyaris tak disadari. Di satu sisi, ribuan anak dibiarkan tumbuh tanpa vaksin, tanpa perlindungan dasar dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Di sisi lain, rumah sakit dipenuhi pasien penyakit kronis yang harus berobat seumur hidup dengan biaya fantastis. Dua situasi ini terlihat terpisah, padahal saling terhubung dalam satu rantai panjang yang sama: kegagalan mencegah sejak awal.

Lebih dari satu dekade lalu, pemerintah RI telah menyadari adanya pergeseran pola penyakit di Indonesia. Dari yang semula didominasi infeksi penyakit menular, menuju penyakit kronis yang diam-diam menggerogoti.

Dulu, ancaman utama datang dari penyakit menular seperti tuberkulosis, diare, hingga infeksi saluran pernapasan. Kini, daftar itu berubah.

Kementerian Kesehatan menemukan bahwa penyakit stroke, jantung, kanker, dan diabetes kini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pergeseran ini bukan sekadar statistik, melainkan tanda bahwa cara masyarakat hidup dan cara negara merespons ikut berubah.

Namun perubahan itu tidak sepenuhnya diikuti kesiapan. Penyakit menular belum benar-benar hilang, sementara penyakit tidak menular terus naik tanpa jeda. Pemerintah sendiri menyebut situasi ini sebagai beban ganda, dua krisis kesehatan yang berjalan bersamaan, tanpa penanganan yang seimbang.

Di titik inilah persoalan menjadi lebih dalam. Ketika sistem kesehatan semakin sibuk menangani penyakit kronis di hilir, fondasi pencegahan di hulu justru rapuh.

Generasi Tanpa Perlindungan: Ribuan Anak Aceh Tak Tersentuh Imunisasi

Di Aceh, celah itu terlihat jelas. Dalam lima tahun terakhir, tercatat 281.984 anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Sebagian bahkan tidak pernah menerima vaksin sama sekali sejak lahir, yang disebut juga sebagai kategori zero dose atau kelompok paling rentan dalam sistem kesehatan.

Angka ini bukan sekadar persoalan administratif. Ia berarti ribuan anak tumbuh tanpa perlindungan dasar terhadap penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Dalam kondisi seperti ini, ancaman wabah bukan lagi kemungkinan, melainkan sesuatu yang terus berulang.

Baca Juga: Saat Udara Rumah Tak Lagi Aman, Inovasi Pemurni Jadi Investasi Kesehatan Jangka Panjang

Dinas Kesehatan Aceh mencatat bahwa sepanjang 2025 ada 5.204 kasus suspek campak dengan 1.241 kasus terkonfirmasi, serta 6 kasus rubela. Sementara pada 2026 hingga Maret, terdapat 724 suspek, 124 konfirmasi campak. dan 1 kasus rubela.

"Sebanyak 93,5 persen kasus konfirmasi terjadi pada anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi campak sama sekali. Ini menunjukkan bahwa kelompok yang tidak diimunisasi menjadi sangat rentan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman.

Ia menambahkan, kelompok usia yang paling terdampak adalah anak usia 1 hingga 4 tahun dan 5 hingga 9 tahun, yang seharusnya sudah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

Dengan pola seperti itu, hubungan antara rendahnya imunisasi dan munculnya kembali penyakit menjadi sangat jelas. Ketika cakupan vaksinasi turun, kelompok rentan membesar dan virus yang sebelumnya terkendali kembali menemukan ruang untuk menyebar.

Infografis krisis kesehatan di Indonesia. (Suara.com/Aldie)

Krisis di Hilir: Gagal Ginjal dan Biaya Seumur Hidup

Jika di hulu masalahnya adalah anak-anak yang tumbuh tanpa perlindungan dasar, maka di hilir, dampaknya muncul dalam bentuk yang jauh lebih mahal, yakni penyakit kronis yang harus ditanggung seumur hidup. Salah satunya, gagal ginjal yang kini menjadi salah satu penyakit dengan beban pembiayaan terbesar dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan bahwa biaya pengobatan gagal ginjal telah mencapai sekitar Rp13 triliun per tahun. Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seiring lonjakan kasus yang bahkan disebut naik hingga lebih dari 400 persen.

Besarnya beban itu tidak lepas dari karakter penyakitnya. Pasien gagal ginjal harus menjalani hemodialisis atau cuci darah secara rutin, umumnya dua hingga tiga kali dalam seminggu, dan berlangsung seumur hidup. Artinya, negara tidak hanya membayar mahal, tetapi juga membayar berulang, tanpa titik akhir.

Mengembalikan Arah: Saatnya Pencegahan Jadi Prioritas

Di tengah beban penyakit yang kian berat, persoalan sistem kesehatan tidak bisa terus bertumpu pada pengobatan. Ketika kasus gagal ginjal menyedot triliunan rupiah setiap tahun dan anak-anak masih tumbuh tanpa imunisasi dasar, persoalannya bukan lagi pada kemampuan mengobati, melainkan kegagalan mencegah sejak awal.

Sejumlah kajian akademik menunjukkan, akar masalahnya terletak pada lemahnya implementasi pendekatan promotif dan preventif.

Studi dari Universitas Halu Oleo pada 2024, misalnya, menemukan program pencegahan di Puskesmas belum berjalan optimal, dipengaruhi rendahnya partisipasi dan kepercayaan masyarakat. Sehingga, persoalan kesehatan dinilai tidak hanya berhenti pada fasilitas, tetapi juga pada hubungan antara sistem dan publik yang dilayaninya.

Di sisi lain, rendahnya literasi kesehatan memperparah situasi. Masyarakat kerap dihadapkan pada informasi yang tidak utuh, mudah ragu terhadap vaksin, tetapi abai terhadap risiko penyakit. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan kesehatan sering kali tidak benar-benar sampai, tapj terhenti di ruang-ruang administratif tanpa menjelma menjadi perilaku nyata.

Load More