Mengenal 3 Tingkatan GERD, Mulai dari Gejala Ringan hingga Terapi Obat P-CAB

Kamis, 24 September 2026 | 11:03 WIB
Ilustrasi asam lambung (pexels/Cottonbro Studio)
BACA 10 DETIK
  • Profesor Ari Fahrial Syam menyatakan di Jakarta, Senin (21/9/2026), bahwa GERD memiliki tingkat keparahan luka kerongkongan dari Grade A hingga D.
  • Perusahaan Daewoong meluncurkan obat Fexupraxan berteknologi P-CAB di Jakarta pada Senin (21/9/2026) untuk menjadi pilihan terapi utama pasien GERD.
  • Hasil uji klinis fase 3 di Korea Selatan menunjukkan obat Fexupraxan mencapai tingkat penyembuhan luka kerongkongan sebesar 99,1 persen.

Suara.com - Belum banyak yang tahu jika penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) memiliki berbagai tingkatan keparahan. Tingkat keparahan ini menentukan terapi atau pengobatan GERD yang tepat agar tidak semakin parah.

Apalagi jika tidak ditangani dengan benar, cairan asam dari lambung yang terus naik dapat mengikis dinding kerongkongan hingga menyebabkan luka, atau yang dikenal sebagai esofagitis erosif.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, menjelaskan bahwa tingkatan luka pada kerongkongan dibagi menjadi beberapa tingkatan atau grading.

"Kalau sudah ada luka, itu ada tingkatan grade-nya," kata Prof. Ari saat peluncuran fexuprazan oleh Daewoong di Jakarta, Senin (21/9/2026).

"Mulai dari Grade A yang lukanya masih kecil di bawah 5 persen, Grade B, Grade C yang lukanya hampir memutari kerongkongan, sampai Grade D di mana saluran kerongkongan sudah menyempit," imbuhnya.

Peluncuran fexuprazan oleh Daewoong di Jakarta, Senin (21/9/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Secara garis besar keparahan penyakit GERD ini dapat dikategorikan ke dalam tiga tahapan yaitu grade A,B, C, D dan komplikasi.

Pada tingkat ringan hingga sedang atau GERD non erosif hingga GERD erosif grade A hingga B ditandai penderita biasanya merasakan gejala umum seperti dada terasa panas terbakar, mulut terasa pahit, leher kaku, hingga kepala pusing.

Pada tahap ini, luka di kerongkongan masih tergolong minim. Berdasarkan penelitian di Indonesia, sebanyak 70 hingga 80 persen penderita GERD masih berada di tingkat ini.

Lalu pada tingkat parah atau GERD erosif C hingga D merupakan kondisi GERD tingkat lanjut. Pasien yang berada di tahap ini umumnya mengalami gejala klinis yang jauh lebih berat, seperti rasa sakit yang hebat, kesulitan menelan makanan, hingga muntah darah akibat luka yang kian parah.

Terakhir tingkat GERD komplikasi dan cenderung berbahaya jika peradangan dan luka kronis pada kerongkongan dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan medis yang tepat, kondisi tersebut berisiko memicu timbulnya sel pra-kanker hingga kanker kerongkongan.

Peluncuran fexuprazan oleh Daewoong di Jakarta, Senin (21/9/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Untuk mengatasi masalah ini, penanganan medis teratur sangat diperlukan guna menekan produksi asam lambung.

Kehadiran obat jenis baru berteknologi P-CAB (Potassium-Competitive Acid Blocker) dengan nama Fexupraxan yang diluncurkan oleh perusahaan farmasi Daewoong menjadi angin segar, terutama bagi pasien dengan kondisi luka kerongkongan.

"Untuk kasus GERD yang sudah ada lukanya, obat P-CAB ini menjadi pilihan terapi utama. Keunggulannya, obat ini cukup diminum satu kali sehari, berbeda dengan obat-obatan terdahulu yang harus diminum dua hingga tiga kali sehari," jelas Prof. Ari.

Prof. Ari menambahkan, obat Fexupraxan terbukti cepat bekerja. Dalam kurun waktu satu hingga dua minggu, gejala nyeri dan terbakar biasanya sudah hilang sama sekali.

Namun, ia mengingatkan agar pasien tidak sengaja menghentikan pengobatan secara sepihak hanya karena tubuhnya sudah terasa enak.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com