Kekerasan Spiritual di Gereja Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:41 WIB
Dr. Gregory Budiman. (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Penyalahgunaan otoritas rohani dapat memicu tekanan psikologis bagi jemaat.
  • Manipulasi pemimpin gereja dan tuntutan pelayanan berlebihan dapat mengakibatkan kecemasan, kelelahan emosional, serta gangguan mental.
  • Korban kekerasan spiritual memerlukan dukungan dan bantuan profesional seperti psikolog guna memulihkan kesehatan mental mereka.

Suara.com - Gereja seharusnya menjadi tempat bagi umat untuk menemukan pengharapan, memperkuat iman, dan memperoleh dukungan spiritual. Namun, bagi sebagian orang, keterlibatan dalam pelayanan gereja justru dapat menjadi sumber tekanan psikologis ketika diwarnai manipulasi, intimidasi, dan penyalahgunaan otoritas rohani.

Fenomena yang dikenal sebagai spiritual abuse atau kekerasan spiritual ini perlu mendapat perhatian. Pasalnya, penggunaan otoritas agama untuk mengendalikan pikiran, keputusan, dan perilaku seseorang dapat berdampak pada kesehatan mental.

Dr. Gregory Budiman, yang mengangkat isu hubungan antara iman Kristen dan kesehatan mental melalui akun media sosial Get Blessing, menilai bahwa persoalan ini perlu dibicarakan secara terbuka dan bertanggung jawab.

Menurutnya, pelayanan seharusnya menjadi ruang pertumbuhan spiritual, bukan lingkungan yang membuat seseorang hidup dalam ketakutan dan rasa bersalah berkepanjangan.

Manipulasi Berkedok Ketaatan

Salah satu bentuk kekerasan spiritual dapat terjadi ketika pemimpin rohani menggunakan otoritasnya untuk mengendalikan jemaat. Seseorang yang mempertanyakan keputusan pemimpin, misalnya, dapat dicap memberontak terhadap Tuhan. Sementara itu, anggota yang menolak tugas pelayanan karena kelelahan mungkin dianggap tidak setia atau kurang mengasihi Tuhan.

Tekanan juga dapat muncul ketika ayat-ayat Alkitab digunakan untuk membungkam kritik, menuntut ketaatan tanpa pertanggungjawaban, atau menimbulkan ketakutan terhadap konsekuensi spiritual.

Dalam jangka panjang, situasi tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri, takut mengambil keputusan sendiri, dan merasa harus selalu mendapatkan persetujuan pemimpin rohani.

Persoalan lainnya adalah penggunaan ancaman hukuman Tuhan untuk mengendalikan perilaku. Sebagian orang dapat merasa bahwa penyakit, kerugian finansial, atau masalah keluarga merupakan hukuman atas dosa atau ketidaktaatan mereka.

Ketakutan yang berlebihan terhadap dosa dan pelanggaran moral, dalam kondisi tertentu, dapat berkaitan dengan masalah kecemasan atau scrupulosity, yakni bentuk gangguan obsesif-kompulsif yang berpusat pada persoalan agama dan moralitas. Namun, diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan profesional.

Ketika Pelayanan Menjadi Beban Psikologis

Tekanan dalam pelayanan tidak selalu berupa ancaman langsung. Tuntutan untuk selalu tersedia, menerima tugas berlebihan, dan mengorbankan waktu istirahat juga dapat menimbulkan kelelahan emosional.

Ketika kelelahan dianggap sebagai tanda kurangnya iman, seseorang mungkin terus memaksakan diri meskipun kondisi fisik dan mentalnya mulai terganggu.

Tekanan berkepanjangan dapat berkontribusi terhadap burnout, kecemasan, gangguan tidur, hingga gejala depresi. Sebagian orang bahkan mengalami ketakutan ketika mendengar khotbah tertentu atau merasa sulit mempercayai komunitas gereja setelah mengalami pengalaman yang menyakitkan.

Meski demikian, tidak semua konflik dalam gereja merupakan kekerasan spiritual, dan tidak setiap pengalaman buruk otomatis menyebabkan gangguan jiwa. Penilaian perlu mempertimbangkan konteks, pola perilaku, serta dampaknya terhadap individu.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com