IDAI Ungkap Dampak Panjang Asap Karhutla pada Anak: dari Kerusakan Paru hingga Penghasilan Rendah

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08:25 WIB
Ilustrasi dampak paparan asap karhutla. [ANTARA FOTO/Auliya Rahman/wsj]
BACA 10 DETIK
  • Dokter anak Fifi Sofiah menyampaikan dalam taklimat media IDAI pada Jumat (16/10/2026) bahwa paparan kabut asap karhutla memicu penurunan prestasi akademik anak.
  • Anak-anak yang terus-menerus menghirup udara tercemar berisiko mengalami gangguan fungsi paru permanen, penyakit kardiovaskular, kanker paru, hingga stunting.
  • Pengalaman terdampak bencana kabut asap juga berpotensi menyebabkan stres serta gangguan stres pascatrauma bagi anak jika tidak segera ditangani.

Suara.com - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada anak tidak selalu berhenti ketika kabut asap menghilang.

Paparan asap yang berlangsung terus-menerus berpotensi memengaruhi kesehatan paru, perkembangan kognitif, capaian akademik, hingga tingkat kesejahteraan mereka ketika dewasa.

Dokter anak, Fifi Sofiah mengingatkan, sejumlah penelitian yang mengikuti anak-anak terdampak kabut asap menemukan adanya dampak jangka panjang yang perlu menjadi perhatian.

Salah satunya berkaitan dengan penurunan skor akademik yang dapat memengaruhi kemampuan anak beradaptasi dengan lingkungan kerja pada masa mendatang.

“Jadi karena dievaluasi dari penelitian yang mengikuti anak-anak yang terdampak kabut asap, ternyata terdapat penurunan skor akademik sehingga anak-anak ini tidak menjadi berkualitas ya performa akademik dan artinya nanti ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja. Dan akhirnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa,” kata Fifi dalam media briefing Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (16/10/2026).

Menurut Fifi, risiko paparan asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan yang muncul saat kebakaran berlangsung. Paparan berulang dan berkepanjangan juga berpotensi menimbulkan gangguan fungsi paru secara permanen.

Ilustrasi Paru-Paru. (Freepik)

Ia mengingatkan, kerusakan tersebut dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan ketika anak tumbuh dewasa, termasuk penyakit paru obstruktif kronis.

“Ternyata bahaya dampak kabut asap itu kita tahu bahwa bisa menjadi gangguan fungsi respirasi, paru permanen apabila memang terus-menerus menghirup udara yang berasal dari kabut asap ini. Jadi kalau kita bilang anak-anak kecil itu sudah punya potensi penyakit paru obstruktif kronis, ke depannya akan seperti itu,” ujarnya.

Fifi juga menyebut, paparan asap dapat berkaitan dengan gangguan pada sistem kardiovaskular serta peningkatan risiko kanker paru akibat paparan partikel dan bahan kimia.

Namun, risiko tersebut perlu dipahami sebagai dampak potensial yang bergantung pada kondisi dan tingkat paparan, bukan kepastian bahwa setiap anak yang terpapar akan mengalami penyakit tersebut.

Selain itu, paparan kabut asap dapat memperburuk kondisi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Gangguan sistem imun, asupan makanan yang tidak memadai, dan penurunan kualitas hidup menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan stunting dan masalah pertumbuhan.

“Dan kondisi ini karena ada sistem imun yang terganggu terus, intake makan dan kualitas hidup tidak teratasi, stunting dan masalah pertumbuhan juga menjadi penting, terpengaruh dalam kondisi ini,” kata Fifi.

Dampak lain yang turut disoroti adalah kesehatan mental. Fifi mengingatkan pengalaman terdampak bencana dan paparan kabut asap dapat berkaitan dengan stres maupun gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD), terutama apabila kondisi psikologis anak tidak ditangani lebih lanjut.

“Dan yang menjadi perhatian bahwa dampak kesehatan mental, terjadilah post-traumatic stress disorder. bisa menjadi suatu stress apabila tidak kita tangani lebih lanjut,” ujarnya.

Fifi menilai, dampak-dampak tersebut perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi persoalan jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com