Tak Semua Pasien Kanker Payudara Harus Jalani Mastektomi, Ada Pilihan Operasi Lain

Minggu, 01 November 2026 | 15:57 WIB
Kanker payudara memang seringkali terjadi pada wanita, namun tidak menutup kemungkinan menyerang pria. (Freepik/Freepik)
BACA 10 DETIK
  • Dokter Denni Joko Purwanto menyatakan pasien kanker payudara dapat memilih prosedur Breast Conserving Surgery untuk mempertahankan sebagian jaringan payudara.
  • Data GLOBOCAN 2024 menunjukkan Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dengan target deteksi dini stadium awal belum tercapai.
  • Kementerian Kesehatan menyediakan layanan skrining gratis bagi perempuan berusia 30 hingga 69 tahun guna meningkatkan deteksi dini.

Pendekatan individual tersebut menjadi salah satu pesan dalam media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters” yang digelar MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan RI dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara.

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan bahwa setiap pasien memiliki perjalanan perawatan berbeda. Karena itu, kolaborasi berbagai spesialisasi medis diperlukan agar penanganan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga kualitas hidup pasien.

Selain tindakan medis, rehabilitasi juga menjadi bagian penting dalam pemulihan. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menjelaskan bahwa rehabilitasi bahkan dapat dimulai sebelum operasi melalui latihan pernapasan, penguatan otot, dan peningkatan daya tahan tubuh.

Pengalaman tersebut dirasakan Flavia Sungkit, penyintas kanker payudara yang didiagnosis stadium 1 pada 2022. Ia menjalani Breast Conserving Surgery karena ukuran tumor masih kecil dan belum ditemukan penyebaran.

Meski demikian, Flavia sempat mengalami keterbatasan gerak setelah operasi. Dengan menjalani rehabilitasi medik secara bertahap, ia kembali beraktivitas, mulai dari berenang, pilates, latihan di pusat kebugaran, hingga mendaki gunung.

Deteksi Dini Masih Menjadi Tantangan

Di tengah beragam pilihan pengobatan, deteksi dini masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, terdapat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia.

Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, mengungkapkan bahwa banyak pasien masih datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut.

Pemerintah menargetkan 60 persen kasus kanker payudara ditemukan pada stadium awal. Namun, capaian pada 2025 baru sekitar 10 persen, sedangkan hingga 30 September 2026 mencapai sekitar 16,19 persen.

“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara. Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. Wanita usia 30–69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara,” tutur dr. Uswatun.

Melalui momentum Bulan Kesadaran Kanker Payudara, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya pemeriksaan sejak dini. Dengan diagnosis yang tepat, pasien dapat memperoleh pilihan penanganan sesuai karakteristik penyakit dan kebutuhan masing-masing.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com