Indotnesia, JAKARTA - Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan, tapi kenyataannya tidak semua. Untuk tetap menjamin hak anak untuk bersekolah, berdiri Sekolah Darurat Kartini. Dulunya bernama Sekolah Keterampilan Wanita Kartini, telah berdiri sejak 1990 dan berhasil mencerahkan pendidikan puluhan ribu kaum marginal di Jakarta.
Didirikan oleh kembar bersaudara, Sri Rossyati (Rossy) dan Sri Irianingsih (Rian), sekolah ini memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu mulai dari PAUD hingga SMA.
Sebelum ditetapkan berpusat di kawasan Lodan, Jakarta Utara, Sekolah Darurat Kartini pernah digusur sebanyak lima kali oleh Pemprov DKI Jakarta. Meski harus sering berpindah, hal tersebut tak menyurutkan semangat Rossy dan Rian dalam berbagi ilmu.
"Ya kita sebetulnya capek usung-usung (mengangkut barang). Tapi, semangat kita karena bersama anak-anak dan merasa bahwa keberadaan kita masih dibutuhkan dengan mereka, kita sih senang karena anak-anak juga semangat. Semangat untuk bersekolah, semangat untuk hidup layak tentunya," ujar Rian.
Melihat antusiasme anak-anak terhadap Sekolah Darurat Kartini, membuat dua ibu kembar ini tak pernah lelah untuk berbagi. Bahkan, mereka memenuhi kebutuhan alat tulis, sepatu, hingga makan anak didiknya dengan kantong pribadi masing-masing.
Rossy dan Rian memiliki harapan besar kepada anak didiknya agar dapat hidup lebih layak. Sehingga, mereka pun menerapkan pola pendidikan karakter menjadi ciri khas Sekolah Darurat Kartini.
"Jadi, kita menerapkan karakter itu nomor satu. Menekankan pendidikan karakter, mulai dari budi pekerti, agama, sopan santun, moral, kejujuran, dan cinta tanah air," lanjutnya.
Sekolah Darurat Kartini: Berawal dari Petuah sang Ayah
Ketertarikan ibu guru kembar terhadap pendidikan kaum marginal atau masyarakat pinggiran kota tak lepas dari peran sang Ayah. Setiap hari Jumat, Ayah mereka kerap mengajak duo kartini kecil ini membagi-bagikan beras pada warga miskin pinggiran rel kerta.
Setiap kali melewati kampung kumuh di pinggiran rel kereta, ayah mereka selalu berpesan kepada Rossy dan Rian kecil tentang tugas untuk menyejahterakan warga miskin pinggir kota. Seiring bertambahnya usia, mereka pun menyadari makna pesan tersebut, terutama ketika melihat banyaknya kemiskinan yang menjadi jurang kesenjangan hidup antarmanusia.
Masih besarnya kesenjangan hidup masyarakat menjadi latar belakang berdirinya Sekolah Darurat Kartini. Keduanya ingin membantu warga miskin pinggir kota agar mampu memenuhi kebutuhan hidup melalui peningkatan pendidikan.
Seperti kata Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Seperti itu pula duo Kartini ini ingin meningkatkan derajat hidup anak didiknya melalui pendidikan.
Pengabdian Tanpa Batas Ibu Guru Kembar
Setelah 30 tahun sekolah gratis ini eksis, nyatanya tak menyurutkan semangat duo ibu guru kembar ini dalam berbagi. Semangat itu bahkan diturunkan juga kepada anak cucu mereka yang turut berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan.
Menurut Rossy, meski usia mereka kini telah menginjak 70 tahun, Sekolah Darurat Kartini akan tetap ada selama masih banyak anak warga miskin yang membutuhkan. Senada dengan Rossy, saudara kembarnya pun menegarkan bahwa perjuangan mereka belum selesai.
"Pengabdian kita pada bangsa ini belum selesai, karena masih banyak anak-anak yang buta aksara, tidak bersekolah, putus sekolah, dan tidak punya keterampilan," ungkap Rian.
Sekolah Darurat Kartini berdiri atas dasar kemanusiaan, menjadi jembatan bagi mereka yang minim akses terhadap pendidikan. Sehingga, perjuangan duo Kartini ini harus terus didukung agar semakin berkembang dan tak ada lagi kesenjangan dalam pendidikan yang harus terjadi di Indonesia.
Berita Terkait
-
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Guru: Stop Saling Lempar Tanggung Jawab
-
Penjelasan Menkeu Purbaya Soal Anggaran MBG Rp240 Triliun dan Alokasi Pendidikan
-
Rp 240 Triliun Biaya MBG Masuk Anggaran Pendidikan 2027, Pemerintah Dinilai Kangkangi Putusan MK
-
Data Sering Nyangkut, DPRD DKI Minta Mekanisme Sanggah Manual untuk Desil Warga
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi