- Kelompok Tani Suka Maju di Sabu Raijua mengembangkan gula semut sebagai alternatif bernilai jual tinggi dibandingkan gula cair tradisional.
- Kelompok yang dipimpin Semuel Uly ini terkendala kapasitas produksi yang belum mampu memenuhi permintaan pasar ekspor dan hotel.
- Tantangan utama adalah kebiasaan masyarakat yang lebih menyukai produksi gula cair karena dianggap lebih praktis dan mudah.
Suara.com - Gula semut menjadi saksi bisu transformasi ekonomi di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Berawal dari sebuah dapur sederhana, Kelompok Tani Suka Maju membuat gula semut sebagai alternatif ekonomi yang lebih menjanjikan ketimbang gula cair tradisional.
Kelompok Tani Suka Maju, yang dipimpin Semuel Uly, kini tengah berfokus mengembangkan gula semut. Ya, gula semut ini memang memiliki keunggulan dibandingkan gula cair tradisional. Menurut Semuel, gula semut memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Nggak cuma itu, gula semut juga daya simpan yang lebih lama ketimbang gula biasa.
Gula semut memang dikembangkan untuk menyasar pasar perhotelan dan ekspor dibandingkan gula Sabu cair tradisional yang umumnya dijual seharga Rp 130 ribu hingga Rp 150 ribu per jeriken berisi 5 liter. Meski daya simpan lebih lama, proses pembuatan gula semut oleh sebagian masyarakat dinilai lebih ribet ketimbang gula cair.
Potensi pasar untuk emas cokelat dari Eilode ini pun ternyata sangat besar cum menjanjikan. Semuel mengungkapkan bahwa permintaan dari kalangan pegawai dan pemerintah terus mengalir. Sayangnya, kapasitas produksi gula semut saat ini belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar tersebut.
Melansir laman Trubus pada 2024, kapasitas produksi Semuel dan kelompok Tani Suka Maju bisa mencapai 10 kilogram gula semut lontar per hari. Kendati begitu, jumlah itupun belum mampu memenuhi permintaan yang datang. Bahkan, ketika dia bisa menghasilkan 30 kilogram per hari gula semut, itu pasti ludes terjual.
Kekinian, kelompok Tani Suka Maju juga telah terkoneksi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan (DPMPTSP & Perindag). Tak hanya itu, kelompok tersebut juga memiliki akses ke NTT Market sebagai platform pemasaran untuk produksi gula semut yang mereka kembangkan.
Beranggotakan 10 orang, kelompok Tani Suka Maju memang memiliki kekuatan yang menjadi modal dasar pengembangan gula semut. Bukan cuma itu, mereka juga memiliki pengalaman serta kepiawaian dalam membuat gula semut.
Tak hanya itu saja, melalui pemerintah dan program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, kelompok juga mendapatkan dukungan dalam bentuk peralatan. Sebut saja, oven, kuali hingga wadah penyimpanan. Peralatan tersebut tak pelak sangat penting dalam rantai produksi gula semut.
“Kami sudah memiliki peralatan yang cukup lengkap untuk produksi gula semut. Bantuan dari pemerintah dan yayasan (GEF SGP Indonesia–RED) sangat membantu kami dalam meningkatkan kualitas produksi,” ungkap Semuel saat ditemui di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Kamis (15/1/2026).
Baca Juga: Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
Selain itu, kelompok Tani Suka Maju juga memiliki akses terhadap lahan suku. Lahan ini bisa dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan kelompok. Selain sebagai aset strategis untuk pengembangan, lahan ini bisa digunakan untuk membangun fasilitas produksi dan lokasi penjemuran bersama.
Sejatinya, dengan fasilitas produksi dan area penjemuran bersama, kualitas produk yang dihasilkan pun bisa diseragamkan. Hal ini bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, standarisasi kualitas menjadi penting dalam meningkatkan daya saing produk gula semut di pasar yang lebih luas.
Selain itu, kelompok ini juga memiliki potensi menjadi instruktur pelatihan gula semut bagi kelompok-kelompok lain di wilayah Sabu Raijua. Pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki dapat ditransfer kepada masyarakat luas. Alhasil, dampak ekonomi yang dihasilkan dari rantai gula semut ini bisa lebih besar.
Adapun pembuatan gula semut diawali dengan proses penyadapan nira dari mayang pohon lontar. Biasanya, proses ini dilakoni laki-laki. Mereka memanjat pohon setinggi 20 hingga 30 meter. Setelah nira terkumpul, tahap pertama yakni adalah penyaringan untuk memastikan nira bersih dari kotoran atau serpihan daun guna menjaga kualitas mutu produk.
Nira yang telah bersih lalu dimasak di kuali besar di atas tungku kayu bakar. Prosesnya kurang lebih 3 hingga 4 jam. Selama proses ini, nira harus diaduk secara berkala. Suhu api pun perlu dijaga agar tidak terlalu besar. Jadi, cairan gula di dasar kuali tidak gosong. Setelah cairan nira mengental, kuali diangkat dari tungku dan didiamkan sekitar 10 menit untuk pendinginan awal.
Tahap akhir paling menentukan yakni pengadukan cepat menggunakan batok kelapa saat gula mulai mendingin hingga cairan kental itu berubah menjadi butiran-butiran halus atau granul. Butiran gula semut ini selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering sebelum akhirnya dikemas ke stoples atau plastik bening untuk dipasarkan.
Berita Terkait
-
Lontar dan Filosofi Kecukupan, Memahami Orang Sabu Lewat Sebatang Pohon
-
Menjaga Warisan Leluhur, Rahasia Ketangguhan Masyarakat Adat Jingitiu di Tanah Sabu
-
Menjemput Air di Jantung Kebun, Ikhtiar Desa Lobohede Sabu Raijua Lawan Krisis Iklim
-
Evolusi Ekonomi Sabu Raijua, Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Bisnis Hijau Inklusif
-
Kedaulatan Data dan Kearifan Lokal, Pondasi Sabu Raijua Hadapi Krisis Iklim Global
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!
-
Gudang Sekolah di Penjaringan Terbakar, 70 Petugas Dikerahkan