- Gubernur Papua Tengah meluncurkan program pendidikan gratis untuk delapan kabupaten guna jaminan mutu tanpa diskriminasi.
- Program strategis ini bertujuan mengurangi kesenjangan sosial ekonomi dan meningkatkan daya saing SDM Papua Tengah.
- Sekolah swasta menyambut baik, merasa operasional terbantu signifikan, khususnya untuk biaya satuan per siswa tinggi.
Suara.com - Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, telah meluncurkan program pendidikan gratis yang mencakup seluruh wilayah cakupannya. Program ini sebagai wujud implementasi undang-undang untuk menjamin layanan pendidikan bermutu tanpa diskriminasi.
Program strategis ini menyasar berbagai jenjang pendidikan mulai dari SMA, SMK, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah berpola asrama yang tersebar di delapan kabupaten, termasuk Mimika.
Tujuan utama program ini adalah untuk mengurangi kesenjangan sosial ekonomi serta meningkatkan daya saing sumber daya manusia Papua Tengah.
Di Kabupaten Mimika, kebijakan ini mendapatkan sambutan hangat dari para pengelola pendidikan, terutama sekolah swasta yang selama ini menghadapi tantangan biaya operasional.
Kepala Sekolah SMKS Filadelfia Pariwisata, Jusuf A. Felubun, menilai program ini sangat krusial dalam membantu keberlangsungan operasional sekolah yang memiliki biaya satuan per siswa cukup tinggi.
"Program sekolah gratis yang dicanangkan oleh Bapak Gubernur Papua Tengah Bapak Meki Nawipa ini sangat membantu kami pihak sekolah khususnya kami sekolah swasta karena kita punya operasional per unit cost per siswa itu sangat tinggi," kata Jusuf.
Menurut Jusuf kehadiran pemerintah provinsi melalui program ini dirasakan sebagai pengambilalihan tanggung jawab biaya dari orang tua. Sehingga sangat meringankan beban bagi 171 siswa di sekolahnya.
Dana bantuan tersebut kini disinergikan dengan dana BOS dan dana Bobda Kabupaten Mimika, untuk memenuhi kebutuhan operasional. Termasuk penyediaan bahan praktik habis pakai untuk jurusan tata boga yang selama ini menjadi kendala utama.
"Kami sudah adakan sosialisasi ke orang tua dan orang tua sambut baik sambut positif kegiatan ini, khusus program Pak Gubernur," ujarnya.
Baca Juga: Pendidikan Gratis Hanya di Atas Kertas? Menyoal Pasal 31 UUD 1945 Pasca-Kasus YBR
Ditambahkan Jusuf, pihaknya tidak bisa berjalan sendiri. Sekolah swasta tetap membutuhkan stakeholder pendidikan dari pusat, provinsi hingga kabupaten.
Ia bilang lebih kurang 80 persen siswanya yang lulusan kemarin bisa terserap ke dunia industri.
"Dengan adanya program ini kami percaya kualitas kita akan meningkat mungkin bisa mencapai hampir 100 persen," tandasnya.
Senada, Kepala SMK Penerbangan Petra Mimika, Minar Pasaribu, turut mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menyebut program ini sangat membantu sekolahnya yang memiliki 97 siswa, di mana 75 persen di antaranya adalah Orang Asli Papua (OAP).
Bantuan ini tidak hanya digunakan untuk operasional sekolah, tetapi turut dialokasikan sebagai insentif bagi para guru dan dukungan langsung kepada peserta didik.
"Puji syukur dan terima kasih banyak sekali kepada Pak Gubernur yang boleh memprogram ada bantuan kepada sekolah kami dan kami sudah menerimanya disampaikan kepada Bapak Ibu guru sebagai insentif," papar Minar.
Berita Terkait
-
Pendidikan Gratis Hanya di Atas Kertas? Menyoal Pasal 31 UUD 1945 Pasca-Kasus YBR
-
Program Makan Bergizi Gratis Tuai Pujian UNICEF: Jangkau 60 Juta Orang, Sasar Masa Depan Papua
-
Daftar Nama Sekolah Penerima Dana Program Sekolah Gratis dari Pemprov Papua Tengah
-
Tanah Tabu: Suara Perlawanan Perempuan dari Jantung Papua
-
Sinopsis Teman Tegar Maira: Whisper from Papua, Film yang Sarat Makna
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
-
Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus
-
Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan
-
Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!