Indotnesia, YOGYAKARTA - Indonesia merupakan negara kesatuan dengan banyak budaya, bahasa, dan juga aksara yang dinaunginya. Salah satunya adalah aksara Jawa. Di Yogyakarta, ada sekelompok pemuda yang giat melestarikan aksara Jawa, yaitu komunitas Sega Jabung.
Berangkat dari kegelisahan tentang eksistensi aksara Jawa yang semakin asing dikalangan anak muda, Setya Amrih kemudian membentuk sebuah komunitas pelestari akasara Jawa bernama Sega Jabung alias Senang Gaul Bahasa Jawa Adiluhung.
Berlokasi di Bantul, Yogyakarta, seorang abdi dalem Keraton Ngayogyakarta yang juga berprofesi sebagai guru ini mengumpulkan anak-anak muda kaum milenial yang memiliki minat terhadap aksara Jawa untuk ikut ke dalam Komunitas Sega Jabung.
Padahal, kebanyakan kaum milenial menganggap penggunaan aksara daerah, seperti aksara Jawa tidak gaul dan ketinggalan zaman. Di sisi lain, aksara Jawa telah merambah kancah internasional.
Aksara Jawa yang indah terancam tidak lestari. Padahal banyak sekali kisah-kisah menarik dan pesan yang dapat kita temukan dalam naskah-naskah Jawa, namun tak tahu cara membacanya.
"Siapapun yang menguasai aksara Jawa, itu banyak sekali lho naskah-naskah kita yang sebetulnya berisi banyak sekali ilmu pengetahuan, tetapi karena kita tidak bisa membacanya, akhirnya tidak terekspos dan justru diteliti orang luar," jelas Amrih.
Amrih juga menambahkan orang asing yang meneliti naskah-naskah kuno beraksara Jawa yang sering menerapkan aksara Jawa. Sedangkan orang Jawa justru banyak yang tidak mengerti jika dalam naskah tersebut ada ilmu dari nenek moyang sendiri. Hal itulah yang menjadi alasan kenapa akasara Jawa harus dilestarikan.
Dikemas secara digital, Amrih bermaksud mendekatkan aksara Jawa kepada kaum milenial agar lebih mudah dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Saya berpikirnya bukan sekarang, tetapi buat generasi yang akan datang. Sayang kan, jika kita ditinggal bahasa. Kita ditinggal aksara, akan tetapi di generasi saya tiba-tiba saya memotong dan tidak menularkan aksara Jawa ke anak-cucu," lanjutnya.
Aksara Jawa di Perangkat Multimedia
Komunitas Sega Jabung yang terdiri dari muda-mudi mencoba melestarikan dan merealisasikan penularan mempelajari aksara Jawa dengan menggunakan media digital.
Pada 1 Oktober 2009, aksara Jawa mendapat slot unicode, artinya bisa diaplikasikan pada perangkat multimedia apapun termasuk yang sudah mengupdate sistem mereka, seperti Windows, Android, iOS dan Linux.
Penamaan font aksara Jawa yang dilakukan oleh bidang IT Komunitas Sega Jabung dilakukan sesuai naskahnya. Misalnya, diambil dari naskah serat Damarwulan, maka nama font menjadi Damarwulan. Lalu, dari serat Imam Nawawi ditulis menjadi Jamawi, Jawa Imam Nawawi.
Berita Terkait
-
'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
-
Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen
-
Mahasiswa Viral Masuk Toilet Cewek? Unisa Yogyakarta: Investigasi Awal Belum Temukan Faktanya
-
Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi
-
Intip Rahasia Mesin Vario Evo 160 yang Bikin Tarikan Makin Galak, Bukan Evolusi Wajah Saja
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Atasi Masalah Ini, Mahasiswa KKN Alternatif 104 UAD Sukseskan Program Bank Sampah di Sorosutan
-
100 Days of Deception Tayang 10 Oktober, Kim You Jung Jalani Misi Berbahaya
-
5 Perbedaan Tone Up Cream dan Tone Up Sunscreen yang Sering Bikin Keliru
-
Teknologi Garmin Jadi Senjata Atlet Hybrid Race, Team Garmin Raih 19 Podium
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Akhiri Kutukan di Piala Dunia, Cristiano Ronaldo Bisa Pensiun dengan Tenang
-
Ekonomi Jakarta Melaju 5,59 Persen, Ini Strategi Pramono Menuju 50 Kota Global
-
Dunia Kerja Bagi Gen Z: Tetap Merasa Lelah Meski Produktif Sepanjang Hari
-
Aksi Kilat Tekab 308 Temukan Mobil Paket yang Dicuri di Lampung Tengah
-
Bupati Langkat Resmi Pakai Rompi Oranye Tahanan KPK