Indotnesia, SUKABUMI - Di wilayah Jawa Barat bagian Selatan, terdapat masyarakat adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur, terutama dalam hal pengelolaan pertanian. Namanya, Kasepuhan Ciptagelar yang terletak di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak.
Mengutip dari situs resmi ciptagelar.info, Kasepuhan Ciptagelar adalah masyarakat hukum adat yang berada di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak.
Berdasarkan catatan sejarah, kampung adat Kasepuhan Ciptagelar berdiri pada 1368. Hingga sekarang, tonggak perubahan kepemimpinan pun masih dilakukan secara turun temurun.
Dalam perjalanannya, kampung adat yang dipimpin oleh seorang ‘Abah’ ini, telah mengalami beberapa kali perpindahan desa pusat pemerintahan. Namun, secara administratif, Kasepuhan Ciptagelar terletak di wilayah dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
Meski telah tercatat secara administratif, letak Kasepuhan Ciptagelar tak menutup kemungkinan untuk berpindah. Sebab, masyarakat adat ini masih berpegang teguh pada tradisi berpindah tempat berdasarkan wangsit yang diterima dari para leluhur.
Oleh karena itu, setiap rumah warga di Ciptagelar terbuat dari kayu yang dilapisi bilik bambu dan hanya beratapkan pelepah aren yang dikeringkan. Bentuk bangunan yang tidak permanen itu akan mudah dipindahkan ketika tiba-tiba wangsit datang kepada sang Pemimpin Kasepuhan.
Menjaga Tradisi Bertani
Terletak di dataran tinggi di antara lembah pegunungan Halimun, warga kasepuhan adalah masyarakat adat yang bersandar pada pertanian, terutama budidaya padi.
Menurut Yoyo Yogasmana, Juru Bicara Kasepuhan Ciptagelar, masyarakat Ciptagelar sejak dulu merupakan masyarakat yang menjaga titipan leluhur, terutama dalam hal pertanian padi.
“Bagi warga masyarakat Ciptagelar, sistem pengelolaan pertanian terutama padi itu semuanya harus manual,” ujarnya.
Yoyo juga menjelaskan, masyarakat masih menggunakan kerbau untuk membajak sawah meski sudah ada teknologi modern seperti traktor. Pengolahan padi pun hanya dilakukan dengan ditumbuk karena pemakaian mesin penggiling dilarang. Selain itu, penggunaan pupuk kimia juga tidak jadi pantangan.
Di Kasepuhan Ciptagelar, menanam padi hanya boleh dilakukan satu kali dalam setahun. Musim tanam panen sekali setahun itu dilakukan dengan mengikuti petunjuk arah bintang atau astronomi.
Dalam setahun, proses bertani ini berjalan dengan beberapa rangkaian adat, yaitu ngasut (proses menanam), mipit (proses panen), nganyaran (merasakan hasil panen pertama kali), ponggokan (persiapan pesta panen), dan serentaun (pesta panen).
Namun dalam kehidupan sehari-hari pelaksanaan kegiatan keagamaannya masih didominasi kepercayaan terhadap adat dan tradisi nenek moyangnya (tatali paranti karuhun).
Meski dalam sejumlah kegiatan keagamaan didominasi kepercayaan adat dan tradisi nenek moyang, mayoritas agama warga Kasepuhan Ciptagelar adalah Islam.
Menghargai Padi
Hubungan antara manusia dan padi bagi masyarakat kampung adat Kasepuhan Ciptagelar memiliki keterikatan yang dekat. Bahkan, mereka memiliki penghormatan terhadap padi sesuai ajaran nenek moyang yang masih diterapkan hingga saat ini.
Berita Terkait
-
El Nino 2026 Ancam Pertanian, Air Bersih hingga Karhutla
-
Minat Asing pada Kopi dan Buah-buahan Turun, Ekspor Pertanian Jadi Susut
-
Mengenal Komunitas Parkour Jakarta: Mengubah Stigma Olahraga Ekstrem Jadi Seni Disiplin Tubuh
-
Mafia Beras Rugikan Masyarakat Rp169 Triliun, 39 Orang Jadi Tersangka
-
Pilihan Ban Baru Buat Pengguna Fortuner hingga Pajero Sport dari Accelera Omikron Rugged Terrain
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan