/
Selasa, 31 Mei 2022 | 16:07 WIB
TikTok/@@fahrifadhilah106

Indotnesia - Pengakuan Fahri Fadillah atas kekecewaannya karena digagalkan mengikuti pendidikan bintara 2021 ramai diperbincangkan publik. Polda Metro Jaya menyebut tidak ada titipan melainkan karena Fahri mengalami buta warna parsial.

Fahri Fadilah, pemuda 21 tahun itu telah dinyatakan lolos pada tes tahap pertama calon bintara 2021. Dia berada di peringkat ke 35 dari 1200 peserta yang mengikuti tes dan telah selesai menjalankan bimbingan persiapan latihan selama 6 bulan.

Melalui akun TikTok pribadinya @fahrifadhilah106, Fahri mengunggah video yang menceritakan dirinya tiba-tiba gagal mengikuti pendidikan bintara. Selain itu, dia juga menyebut jika namanya digantikan oleh orang yang gagal dalam tes. 

Menanggapi hal tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Endra Zulpan mengkonfirmasi bahwa Fahri memang dinyatakan lolos pada tes bintara 2021 tahap pertama. Setelah itu, ada supervisi dari Mabes Polri terhadap peserta sebelum mengikuti pendidikan.

Dari proses supervisi yang disaksikan langsung oleh Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kabid Propam Polda Metro Jaya, Sekretariat SDM Polda Metro Jaya, dan orang tua wali Fahri di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, pada (25/01/2022), Fahri dinyatakan tidak lolos. 

“Kemudian supervisi yang dipimpin ketua tim menyebutkan yang bersangkutan (Fahri Fadilah) tidak memenuhi syarat dengan temuan buta warna parsial,” kata Zulpan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (30/5/2022) dikutip dari Suara.com.

Hasil temuan supervisi yang dilakukan di RS Polri itu membuatnya tidak bisa mengikuti pendidikan. Karena syarat utama untuk anggota Polri adalah harus tidak buta warna. Padahal, Fahri menyebutkan ketika dia periksa di rumah sakit lain tidak ditemukan penyakit tersebut.

“Saya diperiksa di RS lain dan militer tidak ditemukan penyakit tersebut,” kata Fahri dalam videonya.

Di sisi lain, Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Pol Didiet Setioboedi menduga Fahri Fadhilah bisa lolos tahap pertama karena menghafal buku tes buta warna. Pasalnya, buku tes tersebut memang diperjualbelikan di toko kesehatan dan tiap tahun menggunakan buku yang sama.

"Yang bersangkutan bisa lolos kenapa? Kemungkinan terbesar yang bersangkutan belajar tentang buta warna, dia menghafal, buku ini memang dijual-bebas di tempat alkes," kata Didiet di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (30/5/2022) dikutip dari Suara.com.

Penyakit buta warna parsial adalah penyakit buta warna yang paling sering terjadi. Penderita buta warna parsial tidak bisa membedakan warna tertentu, misalnya merah, biru, atau hijau.

Load More