Indotnesia - Ketegangan antara China dan Taiwan dalam beberapa hari terakhir semakin memanas setelah kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi di Taipei pada Selasa (2/8/2022).
Sebelumnya, Menteri Pertahanan China Jenderal Wei Fenghe telah memberikan pernyataan tegas agar AS tidak mencampuri urusan negaranya, terutama dalam mendukung kemerdekaan Taiwan.
"Izinkan saya memperjelas ini: Jika ada yang berani memisahkan Taiwan dari China, kami tak akan ragu untuk melawan," tegas Wei dalam pertemuan puncak sektor keamanan Asia yang diadakan di Singapura, Minggu (12/06) dikutip dari Suara.com.
Kedatangan Pelosi diprediksi hanya akan memperkeruh suasana karena China merasa kunjungan itu “menginjak-injak prinsip Satu China dan sangat mengancam perdamaian sekaligus stabilitas Selat Taiwan.”
“Dengan tegas mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas teritorial. Dan, dengan tegas menggagalkan campur tangan eksternal dalam upaya separatis ‘kemerdekaan Taiwan’,” ungkap Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Wu Qian pada Rabu (3/8/2022), dikutip dari AFP.
Nancy Pelosi dikenal sebagai salah satu tokoh politik AS yang kerap melontarkan sejumlah kritik terhadap pemerintah China dan diduga akan “memprovokasi” Taiwan dalam melepaskan diri sepenuhnya dari Negeri Tirai Bambu.
Diketahui, Taiwan dan China terlibat perang saudara sejak 1927 hingga 1949 yang melibatkan Partai Komunis China dan Partai Nasional Tiongkok atau Kuomintang.
Konflik tersebut lantas membuat Kuomintang kalah dan akhirnya melarikan diri ke Pulau Formosa yang kini juga dikenal sebagai Pulau utama Taiwan dan membentuk pemerintahannya sendiri.
Baca Juga: Kisah Siswa SMAN 1 Banguntapan yang Dipaksa Pakai Hijab Hingga Depresi
Meski Taiwan telah mendeklarasikan diri sebagai negara berdaulat secara de facto, China bersikeras mengakui bahwa Taiwan merupakan provinsi yang memisahkan diri dan merupakan bagian dari negaranya.
Sikap China yang tidak mau melepaskan Taiwan sebagai negara berdaulat membuat hubungan kedua negara itu terus bersitegang, terutama adanya invasi AS yang mendukung kemerdekaan Taiwan.
Negeri Tirai Bambu itu terus mengakui bahwa Taiwan merupakan bagian kesatuan dari kedaulatan China dan menjauhkan pulau tersebut dari keterlibatan sekaligus kerja sama internasional.
Untuk meminimalisir terjadinya perang besar, Taiwan “mempertahankan status quo” dan menghindari mendeklarasikan kemerdekaan secara resmi, meski banyak orang menganggap sikap itu membuat mereka terlihat tidak ingin merdeka.
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
Pilihan
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
-
Rambah Cempaka: Perempuan yang Bersemayam di Batu Lumpang
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
Terkini
-
Amazon MGM Studios Pakai AI, Industri Kreatif Sedang Masuk Fase Kritis
-
Dari Messi hingga Maradona, Ini Pemain dengan Caps Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia
-
BEM UGM Berubah Jadi SEMA, Pemilu Mahasiswa Dihapus dan Diganti Meritokrasi
-
TPAS Cilowong Membludak! Puluhan Truk Sampah Antre Akibat Jadwal Buang Sampah Bentrok
-
58 Calon Pengantin Jadi Korban WO Marwah, Kerugian Capai Rp2,6 M
-
Bukan Pemain Baru, Istri Pemilik WO Marwah Ternyata Residivis Penipuan Kelas Kakap
-
Libur Panjang Akhir Mei, Okupansi Hotel di Puncak - Cipanas Tembus 70 Persen
-
Jaga Kulit Tetap Kencang dengan 5 Pelembap Anti-Aging yang Dilengkapi SPF
-
Resmi Pensiun, James Milner Tulis Pesan Menyentuh untuk Leeds United
-
Isak Tangis Iringi Pemakaman 5 Korban Bom PD II di Biak, Maut yang Terpendam Puluhan Tahun