Indotnesia - Seringkali kita melihat seseorang tampak bahagia dan baik-baik saja dengan kehidupannya. Namun, siapa yang tahu di balik keceriaan seseorang bisa saja sebenarnya sedang mengalami kesulitan.
Perilaku seorang yang suka memperlihatkan bahwa semua terkendali padahal tidak, disebut dengan duck syndrome. Apa itu?
Duck syndrome adalah kondisi di mana seseorang terlihat menikmati hidup padahal sebenarnya memiliki banyak tekanan.
Jika mengutip dari laman PsychCentral, duck syndrome terjadi pada seseorang yang mencoba menciptakan ilusi bahwa hidup baik-baik saja, sementara yang terjadi butuh kerja keras di bawah permukaan untuk menjaga semuanya baik-baik saja.
Istilah tersebut mengacu pada perilaku bebek yang ketika berenang tampak tenang, namun jika dilihat dari bawah permukaan air bebek itu sedang mengayuh dengan ganas.
Sindrom ini pertama kali dikenalkan oleh Stanford University untuk menyebut fenomena yang terjadi di kalangan mahasiswa.
Duck syndrome disebut bukan menjadi salah satu gangguan kondisi kesehatan mental. Namun memiliki peluang untuk mengganggu kondisi mental seseorang.
Ada beberapa gejala yang memungkinkan seseorang mengalami duck syndrome, diantaranya:
1. Suka membandingkan diri dengan orang lain
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Hartono Mall Jogja Berubah Nama Jadi Pakuwon Mall
2. Merasa orang lain lebih baik
3. Takut terhadap pengawasan dan kritik
4. Merasa seseorang memanipulasi situasi
Perasaan-perasaan tersebut bisa membuat seseorang jadi merasa cemas, gugup, sulit berkonsentrasi, bahkan depresi yang dapat mengganggu kesehatan mental.
Sementara, mengutip dari The Asian Parent ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena duck syndrome.
1. Lingkungan keluarga yang menekan pencapaian
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas
-
Rambah Hutan Lindung di Batam, PT GTP Jadi Tersangka Korporasi
-
Truk LPG Hantam 11 Kendaraan di Kota Bandung, Pesepeda Wanita Meninggal Dunia
-
TNI Masuk MBG, Aktivis Kritik Pendekatan Militer: Bukan Situasi Perang
-
Atasi Sampah Kabupaten Bogor, PSEL Galuga Siap Dibangun di Atas Lahan Kopassus