Indotnesia - Gangguan mental Obsessive Compulsive Disorder atau biasa disebut OCD umumnya mulai terjadi pada remaja berusia 19 tahun hingga usia orang dewasa. Meski begitu, anak dengan rentang usia 1-5 tahun maupun 8-12 tahun juga dapat mengalami gangguan tersebut.
OCD pada anak seringkali sulit untuk diketahui, karena anak dan balita kebanyakan tidak menyadari bahwa kondisi obsesi serta kompulsi yang dilakukannya berlebihan serta sangat mengganggu,
Maka dari itu, dibutuhkan peran serta orang tua dalam memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan buah hatinya secara penuh.
Dengan perhatian yang penuh, orang tua dapat lebih mengenali sejumlah aktivitas yang menjadi kebiasaan anak sekaligus melihat pertumbuhannya.
Untuk lebih memahami OCD pada anak, berikut ciri-cirinya yang perlu kamu ketahui, dilansir dari laman Halodoc.
OCD pada anak merupakan kondisi yang berhubungan dengan psikologis dan ditandai munculnya kecemasan terhadap sesuatu secara berlebihan atau disebut obsesif.
Sama halnya dengan yang dialami oleh orang dewasa, ciri-ciri OCD pada anak memiliki perilaku yang berbeda-beda.
Misalnya, ada anak yang cemas akan kotor, sehingga berulang kali mencuci tangannya dan ada pula anak yang selalu merasa takut pada keamanan dirinya.
Baca Juga: Rayakan Akhir Tahun, Musisi Terompet Pemersatu Bangsa Bakal Tampil di Jakarta dan Bali
Anak yang memiliki ciri-ciri sikap seperti dicontohkan sebelumnya maupun kekhawatiran berlebih lainnya, dapat cenderung menjadi pendiam dan pemurung jika perasaannya tidak ditangani dengan baik.
Pasalnya, terkadang mereka tidak mengerti perasaan kecemasan berlebihan tersebut dan kemungkinan orang tua juga menganggapnya sebagai kekhawatiran yang biasa.
Selain kekhawatiran berlebih, ciri-ciri OCD pada anak juga dapat dilihat dari sikap anak yang selalu merasa segala sesuatu harus sesuai dengan kehendaknya.
Biasanya, anak dengan OCD hanya akan memercayai 1 atau 2 orang yang dirasanya aman dan dapat membantunya.
Jika yang membantunya bukan orang yang ia mau, hal itu bisa membuatnya sangat marah dan kesal.
Ketika menyadari perubahan sikap maupun perilaku anak yang berlebihan hingga membuat buah hati sulit berkonsentrasi, segera lakukan konsultasi dengan dokter atau psikolog anak.
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Sinergi Holding Ultra Mikro BRI Kian Kuat, Dorong Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan
-
Terseret Dugaan Kasus Pemerasan, Ajudan Abdul Wahid Ditahan KPK
-
4 Rekomendasi HP Paket Lengkap Kelas Entry dan Mid-Level, Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Suzuki GSX-8R Anniversary Edition Resmi Meluncur Pakai Corak Ikonik Hayabusa
-
Nikmati Serunya Jogja 10K, Borong Diskon Tiket dan Hadiah Menarik Pakai BRImo!
-
Mendagri Sentil Daerah yang Ragu Soal WFH ASN: Ini Bukan Opsional!
-
Ibu dan Anak Tewas Terlindas Bus AKAP di Depan Terminal Kampung Rambutan
-
OJK Sebut Banyak Orang Mulai Malas Bayar Cicilan Pindar
-
Pelatih Bali United Menyesal Gagal Boyong Eliano Reijnders, Kenapa?
-
Lakuer Palembang: Kerajinan Kayu Berlapis Emas yang Dulu dari Istana, Kini Diburu Kolektor Dunia