/
Rabu, 28 Desember 2022 | 19:44 WIB
Hotel Bersejarah Kartika Wijaya Kota Batu (Tiket.com)

Suara Joglo - Bagi kalian yang berniat menikmati liburan akhir tahun dengan nuansa sejarah di Jawa Timur ( Jatim ), jangan lupa mampir ke Malang dan Surabaya

Di dua kota besar ini syarat lokasi wisata sejarah. Bahkan di dua kota ini kalian bisa menginap di hotel dengan nuansa klasik yang memang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan Jepang dulu.

Nah, berikut ini deretan hotel bersejarah yang bisa menjadi pilihan menginap liburan akhir tahun Anda tahun ini di Kota Surabaya dan Malang Raya dikutip dari berbagai sumber:

1. Hotel Kartika Wijaya Heritage

Seorang bangsawan bernama Martyrose Ter Martin Sarkies memutuskan untuk membangun sebuah rumah peristirahatan diakhir pekan di Kota Batu pada tahun 1891. Bangunan inilah yang lalu menjadi cikal bakal Hotel Kartika Wijaya.

Pengembangan lalu dilakukan di bagian kanan dan kiri bangunan utama. Hotel ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Wahono pada 18 November 1986. Sebelum menjadi sebuah villa keluarga, bangunan ini dulunya sempat menjadi tempat penyimpanan senjata pada masa kolonial.

2. Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit adalah sebuah hotel mewah bersejarah di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Dahulunya bernama LMS, lalu Hotel Oranje dan kemudian Hotel Yamato dan juga Hotel Hoteru.

Saat ini, Hotel Majapahit yang dibangun pada tahun 1910 oleh Sarkies Bersaudara dari Armenia tersebut sudah berubah menjadi hotel mewah bintang lima dengan total 143 kamar di lantai satu dan dua.

Baca Juga: BMKG: Bandung Raya Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Sampai Malam Tahun Baru

Hotel ini sempat dikelola oleh Mandarin Oriental Hotel Group sejak 1993 hingga 2006. Pada tahun 2006, hotel ini diakuisisi oleh PT Sekman Wisata. Sebagian besar bangunan asli hotel ini masih dapat dilihat hingga saat ini, meskipun beberapa bangunan luar dan beberapa unsur interiornya telah direnovasi.

Salah satu momen yang paling dikenal di hotel ini adalah peristiwa perobekan bendera pada tanggal 19 September 1945, yaitu Insiden Bendera. Peristiwa bermula ketika sekelompok orang Belanda yang dipimpin Mr. Ploegman mengibarkan bendera Belanda (Merah Putih Biru) di puncak sebelah kanan hotel.

Para pejuang Indonesia merobek warna biru pada bendera Belanda, yang berwarna merah, putih dan biru, dengan demikian bendera itu menjadi merah putih yaitu bendera Republik Indonesia. Insiden bendera itu mengakibatkan terbunuhnya Mr. Ploegman.

3. Horison Arcadia Surabaya

Gedung yang kini menjadi hotel Horison Arcadia Surabaya dulu merupakan kantor perusahaan bidang perkebunan milik Belanda, Geo Wehry & co, dibangun pada 1916.

Setelah penjajahan Belanda berakhir, gedung ini sempat tidak terurus. Pada 2017 Grup Brasali mengambil alih kepemilikannya dan mengubahnya menjadi hotel.

Bangunan ini direnovasi, namun, mempertahankan bagian fasad dengan ciri khas bata dan warna merah marun.

4. Hotel Palace (Hotel Pelangi)

Hotel yang dulunya bernama Palace Hotel dan berdiri sejak tahun 1916 ini beralamat di Jalan Merdeka Selatan No. 3, Kota Malang, Jawa Timur. Letaknya persis di pertigaan antara Alun-Alun Merdeka dan Masjid Jami’, atau berada di sebelah barat Kantor Pos Malang.

Penginapan ini memang mempunyai sejarah panjang dan pada akhirnya membuat daya tarik tersendiri bagi Hotel Pelangi. Pada tahun 1916, dibangun Palace Hotel, di bekas lahan Hotel Malang, oleh pemerintah Hindia Belanda. Tarifnya pada masa itu bisa mencapai F 75 per malamnya.

Ketika Jepang datang, nama hotel diubah menjadi Hotel Assoma hingga akhirnya kembali lagi ke nama awal pada tahun 1945. Nama Hotel Pelangi sendiri mulai muncul pada tahun 1953 ketika tempat tersebut dibeli oleh seorang kontraktor asal Banjarmasin bernama H. Sjachran Hoesin.

5. Hotel Riche

Kajoeetanganstraat, atau dalam sebutan orang pribumi dibaca Kayutangan, merupakan sebuah jalan populer di era kolonial. Di jalan ini, berdiri berbagai macam bangunan yang mendukung gaya hidup orang Eropa seperti restoran, societeit, dan hotel.

Berbicara soal hotel di Kayutangan, Hotel Riche tentu menjadi favorit kala itu. Lokasinya yang berada di pusat kota, dan dekat dengan pusat hiburan dan tempat peribadatan seperti gereja dan masjid, menjadi daya tarik utama hotel ini.

Berdiri pada tahun 1933, Hotel Riche memang menjadi hotel tertua yang keasliannya masih terjaga. Hal ini jelas berbeda dengan Hotel Palace yang seringkali berubah fungsi sebelum bertahan menjadi Hotel Pelangi hingga saat ini.

Load More