/
Senin, 02 Januari 2023 | 11:14 WIB
Cuitan Rizal Ramli yang memberikan kritikan pedas ke Pemerintah. ([Twitter])

Pengamat ekonomi dan politik Rizal Ramli tak henti-hentinya memberikan kritikan pedas kepada pemerintah Indonesia.

Meski pernah menjadi menteri kabinet Indonesia Maju, ia tetap menunjukan sikap tidak suka dengan pemerintahan Presiden Jokowi. 

Terbaru, Rizal Ramli menyebut tahun 2023 hanya akan membuat masyarakat sulit akibat pemerintahan yang otoriter. 

"Selamat Tahun Baru,, Tahun Perubahan dan Kebangkitan," tulis Rizal Ramli dikutip pada Senin (2/1/2023). 

"Tanpa perubahan, tahun 2023 hanya akan jadi tahun sulit bagi mayoritas bangsa kita secara ekonomi & sosial,semakin ngawur dan semakin otoriter. Kun Fa Yakun," tulis Rizal Ramli. 

Namun demikian Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap optimis menghadapi tahun 2023. 

Presiden meminta seluruh pemangku kepentingan hingga pelaku usaha untuk menatap optimis perekonomian pada tahun ini.

Jokowi bilang ditengah ancaman resesi yang akan datang pada 2023, rasa optimistis mesti digaungkan.

Dia menambahkan bahwa negara lain mungkin akan gelap kondisi ekonominya, tetapi untuk Indonesia jangan sampai seperti itu.

Baca Juga: Link Live Streaming M4 World Championship MLBB Fase Grup Hari ke-2, Siapa Tim Jagoanmu?

"Jadi kita semuanya harus tetap optimis, meskipun lembaga-lembaga internasional menyampaikan bahwa tahun ini sulit, tahun depan akan gelap, silakan negara-negara lain, negara kita harus tetap optimis," kata Jokowi dalam acara Trade Expo Indonesia Ke-37 di Tangerang, Rabu (19/10/2022).

Meski harus bersikap optimistis, Jokowi menuturkan bahwa semua pihak harus memasang sikap waspada karena ancaman resesi ini sulit diprediksi kapan akan munculnya.

"Tetapi memang harus waspada harus hati-hati Karena badainya itu sulit dihitung, sulit diprediksi, sulit dikalkulasi. Akan menyebar sampai ke mana, imbasnya ke kita seperti apa," ucap Jokowi.

Sebelumnya, Indonesia masuk dalam daftar survei Bloomberg yang terancam mengalami resesi ekonomi dengan probilitas mencapai 3 persen. Meski demikian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tetap tenang soal daftar tersebut.

"Indonesia dalam hal ini probabilitas resesi menurut survei tersebut 3 persen dibandingkan dengan negara-negara tersebut jauh lebih kecil," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita beberapa waktu lalu.

Dikatakan lebih kecil karena dalam survei tersebut terlihat negara lain seperti Sri Lankan memiliki tingkat probabilitasnya mencapai 85 persen seperti di Sri Lanka. Eropa prababilitasnya 55 persen dan Amerika Serikat 40 persen.

Load More