Suara Joglo - Dunia pendidikan kembali geger dengan kasus kematian seorang pelajar di Poltek Pelayaran Surabaya Jawa Timur ( Jatim ) beberapa waktu lalu. Pelajar ini bernama M Rio Ferdinand (20), asal Mojokerto.
Ia ditemukan tewas bersimbah darah di toilet sekolahan. Awalnya tidak ada yang janggal sebab dikabarkan kalau Rio meninggal lantaran terjatuh di toilet sekolahan. Sampai akhirnya keluarga merasa ada kejanggalan.
Ayah Rio yang seorang polisi lantas mengajukan kepada Polda Jatim agar dilakukan autopsi lagi jenazah Rio yang sudah dimakamkan. Hasilnya, makam dibongkar dan hasil autopsi menunjukkan kalau ada luka pada lambung korban.
Polisi lantas menyelidiki kasus ini. Sampailah pada kesimpulan kalau Rio sebelum meninggal menerima penganiayaan dari kakak kelasnya. Alhasil, pelajar berinisial AJP (19) ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan.
Ia mengakui jika telah melayangkan dua pukulan telak tepat di perut sebelum taruna muda asal Mojokerto tersebut jatuh. Kini, AJP harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan mengubur mimpinya untuk menjadi taruna perkapalan.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Mirzal Maulana, mengatakan dari pengakuan tersangka AJP, penganiayaan terhadap Rio bermula dari korban yang sedang berada di ruang makan pada Minggu (05/02/2023) sekitar pukul 19.30 WIB.
Tak berselang lama, Rio disuruh oleh seniornya itu untuk menuju kamar mandi dengan alasan pembinaan. Rio yang masih junior hanya bisa menuruti permintaan seniornya.
"Dalam perjalanan ke kamar mandi itu korban dikawal oleh empat seniornya. Di dalam kamar mandi tersebut korban lantas dipukuli," ujar Mirzal, Kamis (09/02/2022)
Mirzal menambahkan jika korban dipukul beberapa kali tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Akibat tindakan tersebut, korban mengalami luka di bibir bawah robek dan dagu. Pukulan telak terakhir dilayangkan oleh tersangka AJP dengan tangan kanan sebanyak dua kali sebelum korban tak sadarkan diri.
Baca Juga: 4 Poin Jokowi Soal Dunia Pers Sedang Tidak Baik-baik Saja: Sindir Berita Komersial
"Pelaku mengaku memukul korban dengan menggunakan tangan kanan sebanyak dua kali mengenai perut korban, yang mengakibatkan terjatuh hingga korban meninggal dunia," ujarnya.
Karena korban tak sadarkan diri, beberapa seniornya panik. Kemudian korban dibawa ke Rumah Sakit (RS) Asrama Haji Surabaya menggunakan ambulans milik Klinik Politeknik Pelayaran Surabaya. Namun, nyawa Rio tak dapat diselamatkan.
Sementara itu, Kasihumas Polrestabes Surabaya Kompol M Fakih saat diwawancarai membenarkan jika AJP merupakan salah satu saksi yang sempat ditahan oleh Unit Resmob Polrestabes Surabaya dalam kasus penganiayaan di Politeknik Perkapalan Surabaya.
"Setelah menjalani pemeriksaan selama 3 hari, AJP warga Banyu Urip, Sawahan, Surabaya, itu dinaikan statusnya menjadi tersangka," kata Fakih menambahkan.
Disinggung terkait apakah akan ada tersangka baru dari 13 saksi yang dipanggil oleh Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Fakih mengatakan jika dalam penyelidikan ditemukan fakta baru, maka bisa saja ke 13 saksi akan dipanggil kembali atau menambah saksi untuk dimintai keterangan.
"Penganiayaan antara senior dan junior. Untuk motif atau tersangka lain masih kami selidiki. Mohon bersabar," ujar Fakih.
Sementara ayah korban, Muhammad Yani mengapresiasi kinerja Satreskrim Polrestabes Surabaya. Kepada awak media, Yani yang juga menjabat sebagai kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Kutorejo tersebut mengucapkan rasa terima kasih kepada petugas yang sudah cepat merespon laporannya.
Namun, Yani menduga jika pelaku yang menganiaya anaknya lebih dari satu orang. "Ada yang nyuruh mas. Mudah-mudahan bisa berkembang ke tersangka lain," katanya menambahkan.
Berita Terkait
-
Ledek Shin Tae-yong, Manajer Bajol Ijo Yahya Alkatiri: Marsel Itu Milik Persebaya, Bukan Timnas
-
Gara-gara Laga vs Persebaya Ditunda, Akun PSIS Semarang Digeruduk Bonek: Segitu Takutnya Kah?
-
Astaga! Setelah Shin Tae-yong, Marselino Ferdinan Giliran Disemprot Indra Sjafri Gara-gara ke Belgia Tak Pamit
-
Nekat Datang ke Semarang Meski Pertandingan Ditunda, Bonek Dihadang Polisi, Dipulangkan Paksa
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?