Ponpes Al-Zaytun di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat menuai kontroversi terkait beberapa ajarannya yang diaganggap menyimpang.
Mantan pengurus Ponpes Al Zaytun yang juga pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan belum lama ini membeberkan beberapa ajaran pondok yang dianggap nyeleneh.
Pesantren pimpinan Panji Gumilang terafiliasi dengan NII (Negara Islam Indonesia) dan juga menyimpang.
"Di sana (Ponpes Al Zaytun) itu ada dua struktur. Pertama, strukturt teritorial itu yang berbentuk negara, walaupun negara bayangan. Jadi (ada) RT, RW, lurah, camat, gubernur sampai presiden NII. Presiden NII sama dengan pimpinan Al Zaytun, yaitu Panji Gumilang," ujarnya dalam Program Catatan Demokrasi TvOne, dikutip Jumat (23/6/2023).
"Ada (struktur) fungsional, yang dia jadikan kedok untuk menipu masyarakat Indonesia," lanjutnya.
Dia juga menyampaikan bahwa ada beberapa orang tua santri yang didekati dan direkrut jadi anggota NTT.
"Dan perlu diketahui, di Al Zaytun itu, 80 persen santri yang orang tuanya anggota NII. 20 persen (lagi) korban NII, jadi ketika ditanya masalah NII dia enggak tahu. Tapi suatu saat biasanya setelah lulus akan didekati dan direkrut (jadi anggota NII)," ungkapnya.
Selain hubungan dengan NII, Ponpes Al-Zaytun juga disebut-sebut melakukan ajaran menyimpang dengan mengubah Rukun Islam. Pertama, terkait syahadat yang dikaitkan dengan negara Islam.
Bukan tanpa alasan, karena hukum di Indonesia dinilai masih jahiliyah, peninggalan Belanda. Jadi, harus diganti.
Baca Juga: Budaya Victim Blaming dan Kesehatan Mental
"Ajaran sesatnya dia telah mengubah rukun Islam. Syahadat-nya bukan tiada Tuhan selain Allah, tapi tiada negara kecuali negara Islam. Barang siapa bernegara selain negara Islam, maka dia kafir," kata Ken.
Mereka meyakini bahwa Panji Gumilang nabi baru setelah Nabi Muhammad.
"Dan wa asyhaduanna muhammadar rasulullah, dan siapa saja yang menyampaikan risalah agama, karena rasul berasal dari kata risalah, layak disebut sebagai seorang nabi. Jadi dulu kami meyakini Panji Gumilang nabi baru setelah Nabi Muhammad," tambahnya.
Dia juga mengungkapkan ada beberapa ajaran yang tidak sama soal salat. Karena Indonesia masih jahiliyah dan belum menegakkan hukum Islam, maka tidak diwajibkan salat.
"Ini bukan dilarang ya, tapi belum diwajibkan. Salat suka-suka dia. Karena mereka (santri) dididik jadi negarawan, salatnya dilarang memakai sarung. Salatnya pakai celana, dasi, jas," tutur Ken.
Sementara itu, terkait puasa dan zakat juga diubah. Zakat tak lagi memakai beras, namun menggantinya dengan kurma. Pun dengan puasa yang tak harus dilakukan pada Bulan Ramadan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi