/
Sabtu, 24 Juni 2023 | 11:58 WIB
Aktivitas di Ponpes Al Zaytun (Instagram/@alzaytun_indonesia)

Terakhir, soal haji yang tidak harus ke Mekkah. Melainkan bisa dilakukan di Ponpes Al Zaytun setahun sekali setiap 1 Muharram.

"Ibadah haji menurut NII itu tidak perlu ke Mekkah. Cukup datang ke Al Zaytun setahun sekali setiap 1 Muharram, (juga) diartikan sebagai perkumpulan para pejabat," katanya. 

Ketika 1 Muharam, Ponpes Al-Zaytun akan kedatangan banyak orang untuk melakukan ritual haji. 

Penyimpangan lainnya, yakni soal lempar jumar. Bukan kerikil seperti yang digunakan di Mekkah, tetapi diganti dengan bahan bangunan yang dikonversi dalam bentuk uang.

"Jika di Mekah umumnya melempar jumrah adalah melempar dengan kerikil. Di Ponpes Al Zaytun para jamaah diminta untuk melempar 'semen' dalam bentuk uang," ungkapnya.

"Jadi setiap orang yang datang ke sana dari rombongan wilayah mana nanti di akhir session sambutan Panji Gumilang katanya, ini ada ritual melempar jumrah, misalnya dari Jakarta ada Rp 1 miliar."

Tawaf juga cukup dilakukan dengan mengelilingi Ponpes Al Zaytun yang luasnya 1.200 hektare. "Kita bukan keliling Ka'bah, tapi keliling pesantren yang luasnya 1.200 hektare. Kita bertakbir 'Allahu Akbar', inilah Islam, besar, megah, lengkap fasilitasnya," tuturnya. 

"Jadi tawaf itu mengakbarkan Al Zaytun dengan segala kelengkapan fasilitasnya. Saya rasa semua orang yang ke sana mengucap Subhanallah, besar sekali, luas sekali (Ponpes Al Zaytun)," tandasnya. 

Baca Juga: Budaya Victim Blaming dan Kesehatan Mental

Load More