Suara.com - Jelang pesta demokrasi terbesar, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, suasana di kalangan pejabat publik hingga partai politik (parpol) kian memanas. Tak terkecuali, Partai Demokrat yang baru-baru ini kembali menyentil Presiden Joko Widodo atau Jokowi.
Sentilan itu datang dari Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Benny K Harman, melalui akun Twitternya @BennyHarmanID. Ia menyebut Jokowi terlalu ikut campur terkait urusan calon presiden (capres). Sebelumnya, Ketum AHY juga kerap membandingkan Jokowi dengan SBY.
1. Dianggap Cawe-cawe Capres
Benny menganggap Jokowi cawe-cawe atau terlalu ikut campur soal pemilihan capres 2024. Sebelumnya, sejumlah pihak juga mengkritik sang presiden yang dianggap menjadikan Istana Merdeka sebagai markas parpol pro pemerintah.
Ramai disebut cawe-cawe, Jokowi pun sempat angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa pertemuan dengan sejumlah parpol itu hanya sebatas diskusi, bukan turut campur. Sebab, katanya, ia juga pejabat publik, sehingga tak jadi masalah jika berdiskusi membahas soal Pilpres.
"Itu diskusi aja, kok cawe-cawe. Saya tadi sudah sampaikan saya ini kan juga pejabat politik. Bukan cawe-cawe," ujar Jokowi kepada wartawan di Jakarta Pusat, Kamis (4/5/2023).
2. Kritik Netralitas Presiden
Melalui akun Twitternya, Benny juga menilai Jokowi harus netral. Hal ini dihubungkan dengan Partai NasDem yang tidak diundang saat pertemuan di Istana. Menurutnya, sang presiden hanya ingin seluruh parpol mengusung capres yang ia dukung.
3. Sebut Jokowi Kumandangkan Perang
Baca Juga: PKB Tunggu Capres-Cawapres KKIR sampai Akhir Mei, Respon Gerindra: yang Sabar yang Menang
Benny mengatakan, jika kecurigaannya benar, maka Jokowi dinilai tengah mengajak perang. Adapun perang yang dimaksud, yakni melawan rakyat. Ia lantas mengimbau Jokowi perlu hati-hati karena saat ini dirinya masih menjadi kepala negara.
"Jika benar Presiden tidak netral dalam pilpres dan pileg apalagi menjadikan Istana Presiden markas tim sukses capres tertentu maka Presiden Jokowi sebenarnya lagi mengumandangkan perang," ujar Benny melalui akun Twitternya.
"(Perang) Maksudnya Presiden Jokowi akan melawan rakyatnya sendiri, dia itu presiden dari seluruh rakyat Indonesia, dari semua golongan dan kelompok, dari semua suku bangsa, dari semua partai politik," lanjutnya.
4. Bandingkan Jokowi dengan SBY
Tahun lalu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) beberapa kali membandingkan Indonesia era pemerintahan Jokowi dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Menurutnya, ada berbagai perbedaan yang sangat signifikan.
Salah satunya, soal guru honorer di era Jokowi yang dinilainya tidak sejahtera. Ia prihatin melihat negara yang rajin membangun infrastruktur, namun tidak memikirkan nasib guru honorer. Ia lantas berharap mereka bisa segera diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Berita Terkait
-
Hari Ini, Jokowi Pimpin Pertemuan KTT Asean 2023 di Labuan Bajo
-
PKB Tunggu Capres-Cawapres KKIR sampai Akhir Mei, Respon Gerindra: yang Sabar yang Menang
-
KTT ASEAN 2023 Siap Dilaksanakan, Para Pemimpin Negara Anggota ASEAN Tiba di Labuan Bajo
-
Lampu Pocong Disebut Proyek Gagal, Bobby Nasution Minta Kontraktor Kembalikan Duit Pemkot Medan
-
Dua Wanita Korban Penggelapan Dana Asuransi Terobos Masuk Istana Negara, Ini Deretan Kasus Serupa
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?