Kotak Suara / Pilpres
Jum'at, 02 Februari 2024 | 14:46 WIB
Ilustrasi Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY, Ketum Partai Demokrat ketika kampanye ke Jogja. AHY dituding berambisi jadi cawapres, Rachland Nashidik sindir Cak Imin. [Hiskia Andika Weadcaksana/Suarajogja.id]

Suara.com - Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Demokrat Rachland Nashidik geram terhadap sejumlah orang yang menuding Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berambisi menjadi cawapres.

Rachland lalu membandingkan sikap AHY dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

"Kalian serang AHY karena kalian tuding berambisi jadi Cawapres. Tapi, kalau begitu, kenapa kalian tak serang Muhaimin?" tulis Rachland di akun X.

Baca Juga:

GKR Bendara Putri Sultan Jogja Jajan di Gerobak Angkringan, Tingkahnya Menjadi Sorotan Publik

PSI dan Empat Partai Lainnya Dicoret dari Peserta Pemilu di Jateng, kalau Dapat Suara Tak Akan Dihitung

Menurut dia, Cak Imin melompat ke kubu Anies Baswedan karena keinginannya menjadi cawapres tidak disambut kubu Prabowo Subianto.

Di kubu Anies Baswedan, Cak Imin lalu dijadikan cawapres mendampingi Anies. Karena itu Rachland heran mengapa AHY yang dituding berambisi menjadi cawapres.

"Hari ini adalah Imin yang jadi Cawapres bukan AHY. Tapi kenapa tetap AHY yang kalian tuding?" ujar Rachland Nashidik.

Baca Juga: Cak Imin: Mundurnya Mahfud MD dari Menkopolhukam Harusnya Jadi Teguran Bagi Prabowo-Gibran

Ia lalu menceritakan bahwa AHY tidak ngotot menjadi cawapres ketika mulai menjajagi berkoalisi dengan kubu Prabowo Subianto. 

Menurutnya, AHY justru mengusulkan nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai cawapres Prabowo.

Hal ini kata Rachland, membuktikan bahwa jabatan bukan tujuan utama AHY dalam berpolitik karena jabatan hanyalah perantara. 

"AHY membuktikan, jabatan bukan tujuan. Dalam politik, jabatan itu cuma sepeda untuk menghampiri tujuan," tutur Rachland.

Rachland mengatakan, diskursus tentang politik lebih penting dari jabatan. Politik menurutnya membutuhkan upaya komunikatif yang rasional untuk menjembatani pengertian-pengertian dan memenangkan kesepakatan.

"Upaya itu, ironisnya, justru dilakukan oleh Prabowo. Anies? Ia tak mengajak Demokrat membicarakan lebih dulu rencana baru, alasan dan strateginya," ucap Rachland.

Load More