Politikus Partai Golkar Ace Hasan Syadzily mengingatkan bahaya politik identitas menjelang pemilihan umum (pemilu) 2024.
Ace mengatakan, politik identitas dapat berupa politisasi agama oleh kelompok tertentu dan demi kepentingan kelompok tertentu itu sendiri. Bisa juga, lanjutnya, berupa ujaran kebencian terhadap salah satu agama.
"Saya ingin menyampaikan kondisi yang kita hadapi saat ini, seperti kemiskinan, politisasi agama dan ujaran kebencian yang hanya menghalalkan kelompoknya semata. Itu selalu muncul di medsos terlebih saat menjelang pemilu dan pilpres,” ujarnya dalam sebuah pernyataan, dikutip Liberte Suara, Rabu (2/8/2023).
Kang Ace, sapaan akrabnya, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mengedepankan suku, agama, dan budaya sebab fanatisme identitas berpotensi merusak nilai-nilai kebangsaan Indonesia.
Ia memberikan contoh fenomena di wilayah Timur Tengah, salah satunya Arab Spring. Ini merupakan kondisi ketidakstabilan yang memicu krisis hingga kekacauan sosial dan penggulingan pemerintahan.
Negara-negara di Timur Tengah itu antara lain Tunisia pada musim semi 2011 hingga menyebar menyebar ke beberapa negara Arab lainnya seperti Mesir, Libya, hingga Suriah.
“Akibatnya bisa kita lihat negara-negara di sana menjadi lemah. Pertahanannya lemah. Mudah digoyang-goyang oleh intervensi asing,” ujarnya.
Kang Ace menyebut Suriah sebagai contoh. Negara dengan tradisi peradaban maju itu hari ini hancur berantakan, akibat perebutan kekuasaan dengan mengatasnamakan agama.
“Negara itu kini terkoyak dan berkeping-keping, Islam syiah berpusat di Damaskus, kelompok Suni yang didukung Arab Saudi di Aleppo dan ISIS berpusat di Mosul. Mereka semua mengaku Islam dan ada ulamanya saat bertempur mereka selalu sama-sama berteriak Allahu Akbar,” kata Kang Ace.
Baca Juga: Panji Gumilang Ditetapkan Jadi Tersangka, Ngabalin Dimintai Pertanggungjawaban
Peristiwa yang terjadi di Suriah ini, kata Kang Ace, harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia.
“Kita beruntung sebagai bangsa punya Pancasila. Di Timur Tengah satu suku bangsa negaranya berpecah-pecah dan berbeda-beda. Kita banyak suku tapi tetap satu yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan