Suara.com - Tanjidor merupakan salah satu kesenian musik tradisional Betawi.
Musik tradisional ini mendapat pengaruh kuat dari musik Eropa seperti Belanda dan Portugis, serta musik tradisional Cina.
Saat zaman penjajahan, penghasilan seniman tanjidor berasal dari saweran penonton yang hadir di acara hajatan besar tuan tanah atau bangsawan Eropa.
Sejarawan muda Betawi JJ Rizal menjelaskan, pada tahun 1952, keberadaan tanjidor dilarang oleh Wali kota Sudiro. "Musik tradisional ini dianggap merendahkan orang pribumi, karena saweran orang Tionghoa yang berikan kepada seniman tanjidor dianggap meminta-minta," jelasnya pada acara Diskusi dan Parade Tanjidor di Bentara Budaya, Jakarta, Jumat (21/3/2014) malam.
Padahal, menurut Rizal, saweran tersebut bukan merendahkan. Justru sebuah apresiasi karena orang Tionghoa menganggap tanjidor sebagai sebuah rahmat yang melindungi dari segala malapetaka dan hal-hal yang buruk.
Akibat pelarangan itulah, tanjidor mulai mengalami kemerosotan. "Namun mereka masih bisa tetap bertahan meski jumlahnya berkurang. Dari ratusan grup yang ada, berkurang menjadi sekitar puluhan jumlahnya di tahun 1980-an," ungkapnya.
Dan hingga saat ini, lanjut Rizal, jumlahnya hanya sekitar 30 grup tanjidor di Jakarta.
Ironisnya, di tengah teriak nyaring Gubernur dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang ingin menjadikan Betawi sebagai identitas kultural kota Jakarta, Rizal menilai, kenyataannya justru bertolak belakang. Ia berpendapat kepedulian Gubernur dan Pemprov DKI masih sangat kurang.
Ini terlihat dari eksistensi tanjidor yang mengalami krisis apresiasi dari masyarakat saat ini. Tak hanya itu, grup-grup tanjidor pun menghadapi kendala regenerasi.
"Otomatis mereka juga menghadapi kesulitan ekonomi, karena akhirnya tidak bisa lagi menjadikan tanjidor sebagai mata pencarian utamanya. Di titik inilah kemerosotan tanjidor semakin terjadi," jelas Rizal prihatin.
Meski diakuinya masih ada generasi muda yang mau mempertahankan musik tradisional tersebut, tetapi jumlahnya masih jauh dari harapan. Karenanya Rizal berharap generasi muda yang terpanggil untuk melestarikan tanjidor dapat membuat inovasi, terobosan atau kreativitas baru agar tanjidor bisa bertahan, dan beradaptasi sesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan ciri khasnya.
Kreativitas ini, kata Rizal, sangat mungkin dilakukan mengingat tanjidor memang mempunyai keluwesan untuk berkolaborasi menjadi berbagai macam jenis tanji.
"Ada tanji lenong, tanji topeng (jipeng), tanji orkes (jikres), tanji dengan musik dangdut (tanjidut), tanji dengan musik Sunda maupun melayu dan masih banyak lagi," ujarnya bersemangat.
Oleh karena itulah Rizal berharap, nantinya generasi muda dapat mengemasnya sedemikian rupa yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang.
"Misalnya membuat tanji rock, tanji jazz atau tanji classic. Namun, musik tanjidornya yang asli harus tetap diperhatikan" tambahnya.
Dengan kolaborasi tersebut, Rizal berharap, kelak tanjidor tak hanya tampil di acara resmi seperti pernikahan dan penyambutan tamu agung, tetapi juga di acara yang lebih luas lagi seperti pesta, konser atau pertunjukan musik modern.
Berita Terkait
-
Barak Karinding: Dari Balaraja, Musik Bambu Menggema ke Panggung Internasional
-
Sosok Bejo Sandy: Melestarikan Rinding Malang sebagai Warisan Seni dan Budaya
-
Banyak yang Mulai Terlupakan, Ini 5 Alat Musik Tradisional Suku Mandar di Sulawesi Barat
-
Upaya Melindungi Musik Tradisional Indonesia
-
Maju Makmur, Band Anak-Anak yang Populerkan Lagi Lagu Daerah
Terpopuler
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
- Mitchell Baker Cetak 3 Gol dari 4 Laga Bakal Dipanggil John Herdman di FIFA ASEAN Cup 2026?
- Persib Bandung vs Seoul FC dan Melbourne Victory, Mariano Peralta Kirim Psywar
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Kebakaran Hebat Terjadi di TPA Putri Cempo Solo
-
Ujian Berat MBG: Ketika Nasi, Tempe, dan Telur Berujung Keracunan Massal di Pesantren Sidoarjo
-
516 Korban Keracunan, Bupati Sidoarjo Ultimatum BGN Soal Perizinan: Ini Harus Tegas!
-
Kabar Gembira! Mulai 2027 Guru PPPK Paruh Waktu Resmi Diangkat Jadi Penuh Waktu
-
KPK Geledah Perusahaan Tambang Terkait Kasus Pajak Banjarmasin, Nama Adaro Ikut Terseret
Terkini
-
Sopir Jasa Angkut Curiga Bau Menyengat, Dipaksa Bawa Kardus Berisi Mayat di Bandung
-
Wakil Wali Kota Tangsel Ungkap Hibah KONI Rp12 Miliar Bermasalah
-
Pintas Ke Pelabuhan Ratu Lebih Cepat, Pemkab Bogor Lanjutkan Proyek Jalan Nanggung - Sukabumi
-
KPK Dalami Mekanisme Pemotongan Upah Pungut di Bogor
-
Memilih Desain Rumah yang Mengikuti Ritme Kehidupan Penghuninya
-
11 Tahun Buron, Tersangka Korupsi Bandara Melalan Ditangkap di Sulsel
-
MBG Berbahaya: Ketika Nasi, Tempe, dan Telur Berujung Keracunan Massal di Pesantren Sidoarjo
-
BREAKING NEWS! Kebakaran Hebat Terjadi di TPA Putri Cempo Solo
-
Habitat Ludes Terbakar! Karhutla Kalimantan Picu Risiko Konflik Satwa dengan Manusia
-
Nasib Apes Emil Audero Usai Gabung Rayo Vallecano Terusir dari Stadion Sendiri, Kok Bisa?