Lifestyle / Komunitas
Senin, 12 Januari 2026 | 15:15 WIB
Ilustrasi transformasi digital. [Pixabay]
Baca 10 detik
  • Transformasi digital adalah pemanfaatan teknologi untuk mempraktiskan aktivitas kerja, berfokus pada sistem berbasis data dan terintegrasi.
  • Digitalisasi bisnis sebaiknya dimulai dari proses inti seperti penjualan dan operasional, dengan memusatkan data menjadi Single Source of Truth.
  • Transformasi digital tidak harus dilakukan sekaligus. Layaknya membangun kebiasaan baru, proses ini bisa dimulai satu per satu.

Suara.com - Kita makin sering mendengar istilah transformasi digital, terutama dalam dunia kerja dan bisnis. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan transformasi digital?

Sederhananya, transformasi digital adalah proses memanfaatkan teknologi untuk membuat cara kerja menjadi lebih rapi, efisien, dan terhubung—bukan sekadar memindahkan aktivitas manual ke sistem online, tetapi mengubah pola kerja agar lebih adaptif dengan kebutuhan zaman.

Salah satu contohnya, kalau dulu menyimpan data di komputer sudah terasa modern, sekarang menyimpan file di folder online, berbagi dokumen real-time, hingga otomatisasi tugas harian jadi bagian dari keseharian. Inilah yang disebut transformasi digital. Bukan sekadar tren teknologi, tapi bagian dari gaya hidup kerja masa kini.

Singkatnya, transformasi digital adalah memanfaatkan teknologi untuk membuat aktivitas jadi lebih praktis. Dalam dunia bisnis, maknanya jauh lebih luas. Transformasi digital bukan hanya memindahkan proses offline ke online, tapi membangun sistem kerja yang berbasis data, terintegrasi, dan siap berkembang mengikuti kebutuhan.

Gaya hidup kerja yang serba cepat menuntut bisnis bergerak lebih gesit dan efisien. Proses manual, data yang tersebar di banyak tempat, hingga sistem yang tidak saling terhubung sering kali jadi sumber stres dan hambatan dalam mengambil keputusan. Tak heran, banyak pelaku usaha mulai bertanya: bagaimana caranya merapikan alur kerja tanpa harus ribet?

Digitalisasi Bisnis, Mulai Pelan tapi Konsisten

Kabar baiknya, transformasi digital tidak harus dilakukan sekaligus. Layaknya membangun kebiasaan baru, proses ini bisa dimulai satu per satu. Fokus utamanya ada pada proses inti bisnis seperti penjualan, keuangan, dan operasional—bagian yang paling sering bersentuhan dengan aktivitas harian.

Langkah penting lainnya adalah memusatkan data. Dalam gaya kerja modern, memiliki Single Source of Truth (SSOT) berarti semua informasi konsisten, akurat, dan mudah diakses kapan saja. Dengan begitu, kerja jadi lebih rapi dan keputusan bisa diambil lebih cepat.

Sistem yang digunakan pun idealnya memenuhi tiga hal: mudah digunakan, lengkap, dan saling terintegrasi. Sistem yang intuitif akan lebih cepat diadaptasi tim, sementara kelengkapan dan integrasi membantu mengurangi ketergantungan pada banyak aplikasi terpisah.

Baca Juga: Tembus 1 Juta Pengguna, Pegadaian Apresiasi Nasabah Tring! dan Percepat Transformasi Digital

Di sinilah peran sistem ERP (Enterprise Resource Planning) mulai terasa relevansinya. ERP memungkinkan berbagai proses bisnis dikelola dalam satu platform, dan salah satu yang banyak digunakan lintas skala bisnis adalah Odoo.

Odoo dikenal sebagai platform manajemen bisnis all-in-one yang mengintegrasikan berbagai fungsi, mulai dari CRM, penjualan, akuntansi, inventaris, manufaktur, hingga HR. Semua data terpusat, membuat kerja lebih efisien dan minim drama soal data yang tidak sinkron.

Menariknya, di versi terbarunya, Odoo sudah dilengkapi AI bawaan yang membantu otomatisasi tugas rutin, pencarian data, hingga meningkatkan produktivitas tim. Pendekatan modularnya juga memungkinkan bisnis memulai dari kebutuhan dasar, lalu berkembang secara fleksibel seiring pertumbuhan.

Benny Putra Sugito, Direktur PT Odoo Software Indonesia. (dok. ist)

“Jutaan perusahaan di Indonesia menunjukkan semangat wirausaha yang luar biasa. Sayangnya, banyak yang masih terjebak dalam pengelolaan manual yang menghambat potensi mereka,” ujar Benny Putra Sugito, Direktur PT Odoo Software Indonesia.

Menurutnya, Odoo hadir untuk membantu bisnis bekerja lebih efisien dan mengambil keputusan berbasis data.

Dari sisi biaya, Odoo juga relatif terjangkau dengan skema lisensi per pengguna mulai dari Rp110.000 per bulan, membuat sistem kerja modern tidak lagi eksklusif untuk perusahaan besar saja.

Load More