Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 04 April 2014 | 11:17 WIB
Suasana pameran 'Bertolak Dari Yang Ada' (Foto: shutterstock)

Suara.com - Selama ini kita mungkin lebih mengenal Putu Wijaya lebih sebagai seorang cerpenis, novelis, penulis skenario, sutradara film dan pendiri Teater Mandiri. Padahal senyatanya, Putu Wijaya memulai kariernya sebagai pekerja seni dengan melukis. Namun ia telah lama mengubur impiannya menjadi pelukis, untuk kemudian berkiprah di dunia teater dan sebagai penulis.

Dan sebagai penulis, laki-laki yang terlahir sebagai I Gusti Ngurah Putu ini sudah sangat diakui. Ratusan karya lahir dari tangannya. Sederet penghargaan disemat ke pundak laki-laki yang pada 11 April ini akan genap berusia 70 tahun ini. Dan justru di usianya yang menapak kepala tujuh inilah Putu mulai menapaki jalan lama yang pernah ditempuhnya, melukis.

Lukisan-lukisan Putu itu, mulai Rabu (3/4/2014) malam, dipamerkan di Bentara Budaya, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta. Pameran bertajuk 'Bertolak Dari Yang Ada' yang akan berlangsung hingga 12 April 2014 ini memamerkan 27 lukisan karya Putu. Sebagian besar adalah karya Putu setelah mengalami pendarahan otak  pada Oktober 2012 lalu.

Tapi sebuah karya saat Putu masih belia, 'Jangan Sentuh Kami' yang dilukis pada 1974 turut disertakan dalam pameran kali ini.  Lukisan dengan obyek kapal nelayan ini bahkan menjadi latar panggung kecil saat pembukaan.

Melukis seolah menjadi terapi bagi suami Dewi Pramunawati ini. "Saya hanya bisa menulis dengan jempol di BB untuk mengisi tiga kolom tetap setiap Minggu. Sisanya waktu kosong, yang kalau dibiarkan akan menelan saya," tulis Putu dalam pengantar pameran. Itu sebabnya Putu kembali ke kanvas, dan menumpahkan segala memorinya tentang keindahan alam yang selama ini ia abaikan.

Dan ia tak menganut sebuah gaya, bukan realis, bukan pula naturalis, atau impresionis. Putu seolah memindahkan panggung teater yang selama ini digelutinya ke kanvas. Tapi seperti gayanya sebelumnya yang memuja absudirtas, sentuhan kontemporer juga kuat terasa dalam lukisan Putu.

Keindahan alam, seperti danau Kelimutu, indahnya pepohonan, bunga, perahu, bulan, atau matahari yang sedang tenggelam diekspresikan dalam warna-warna cemerlang, merah kuning atau hijau. Ya seperti, kata Putu, warna baginya bukan alat untuk mencopy bentuk tetapi ekspresi emosi. Itu sebabnya, bagi langit tak harus biru. Demikian juga, pohon juga tak harus tegak ke atas. Jika ingin menikmati keindahan karya Putu Wijaya, maka datanglah ke Bentara Budaya, Jakarta.

Load More