Suara.com - Selama ini kita mungkin lebih mengenal Putu Wijaya lebih sebagai seorang cerpenis, novelis, penulis skenario, sutradara film dan pendiri Teater Mandiri. Padahal senyatanya, Putu Wijaya memulai kariernya sebagai pekerja seni dengan melukis. Namun ia telah lama mengubur impiannya menjadi pelukis, untuk kemudian berkiprah di dunia teater dan sebagai penulis.
Dan sebagai penulis, laki-laki yang terlahir sebagai I Gusti Ngurah Putu ini sudah sangat diakui. Ratusan karya lahir dari tangannya. Sederet penghargaan disemat ke pundak laki-laki yang pada 11 April ini akan genap berusia 70 tahun ini. Dan justru di usianya yang menapak kepala tujuh inilah Putu mulai menapaki jalan lama yang pernah ditempuhnya, melukis.
Lukisan-lukisan Putu itu, mulai Rabu (3/4/2014) malam, dipamerkan di Bentara Budaya, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta. Pameran bertajuk 'Bertolak Dari Yang Ada' yang akan berlangsung hingga 12 April 2014 ini memamerkan 27 lukisan karya Putu. Sebagian besar adalah karya Putu setelah mengalami pendarahan otak pada Oktober 2012 lalu.
Tapi sebuah karya saat Putu masih belia, 'Jangan Sentuh Kami' yang dilukis pada 1974 turut disertakan dalam pameran kali ini. Lukisan dengan obyek kapal nelayan ini bahkan menjadi latar panggung kecil saat pembukaan.
Melukis seolah menjadi terapi bagi suami Dewi Pramunawati ini. "Saya hanya bisa menulis dengan jempol di BB untuk mengisi tiga kolom tetap setiap Minggu. Sisanya waktu kosong, yang kalau dibiarkan akan menelan saya," tulis Putu dalam pengantar pameran. Itu sebabnya Putu kembali ke kanvas, dan menumpahkan segala memorinya tentang keindahan alam yang selama ini ia abaikan.
Dan ia tak menganut sebuah gaya, bukan realis, bukan pula naturalis, atau impresionis. Putu seolah memindahkan panggung teater yang selama ini digelutinya ke kanvas. Tapi seperti gayanya sebelumnya yang memuja absudirtas, sentuhan kontemporer juga kuat terasa dalam lukisan Putu.
Keindahan alam, seperti danau Kelimutu, indahnya pepohonan, bunga, perahu, bulan, atau matahari yang sedang tenggelam diekspresikan dalam warna-warna cemerlang, merah kuning atau hijau. Ya seperti, kata Putu, warna baginya bukan alat untuk mencopy bentuk tetapi ekspresi emosi. Itu sebabnya, bagi langit tak harus biru. Demikian juga, pohon juga tak harus tegak ke atas. Jika ingin menikmati keindahan karya Putu Wijaya, maka datanglah ke Bentara Budaya, Jakarta.
Berita Terkait
-
Telegram Karya Putu Wijaya: Kabar Duka dari Dunia yang Tak Pernah Pasti
-
Novel Pabrik Karya Putu Wijaya: Mesin Kekuasaan yang Menggilas Manusia
-
Kekuatan Magis Pameran Lukisan Desa Kartun Sidareja Punya 'Efek Terapi' Sembuhkan Jiwa
-
Kisah Mayat Mendatangi Kantor Media Massa dalam Buku Klop karya Putu Wijaya
-
Kurator Galnas Ungkap Pameran Yos Suprapto di Galnas Berkali-kali Ditunda Sejak 2023
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Diusir Pelatih FC Twente, Mees Hilgers Buka Suara Akui Didekati Feyenoord
-
Prediksi Skor, Susunan Pemain Persib Bandung vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026
-
Kenaikan Harga Beras dan Rokok Dorong Warga Hampir Miskin Jatuh ke Jurang Kemiskinan
-
Mengenal Fenomena 'Deskilling': Benarkah AI Perlahan Menurunkan Keterampilan Berpikir Manusia?
-
Aturan BPJS vs Ekspektasi Pasien: Siapa yang Sebenarnya Perlu Disalahkan?
-
Sawah Terendam Rob Disulap Jadi Wisata Kano, Begini Penampakannya
-
Rincian Bunga Deposito BRI dan BNI Terbaru Tahun 2026
-
Komisi IX DPR Kecam Oknum Nakes yang Diduga Nirempati pada Yurizal: BPJS Bukan Pasien Kelas Dua
-
Panduan Susunan Upacara Bendera 17 Agustus di Sekolah Lengkap dari Awal sampai Akhir
-
Dipimpin Hakim Richard Edwin Basoeki, Sidang Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 dan Agustus