Suara.com - Awalnya kopi tak bermakna apa-apa bagi Arief Said. Lalu ia jatuh cinta pada minuman eksotik ini. Dan kini, hari-harinya tak bisa lepas dari biji-biji hitam itu. Satu tekadnya, ingin memberi nilai tambah bagi produksi kopi Indonesia! Makanya ia sangat antusias ketika diminta membantu gelaran lelang kopi Indonesia yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober mendatang.
Morph Coffee yang didirikannya, bersama salah satu peroaster kopi ternama di Jakarta diberi kepercayaan untuk memanggang (roast) kopi-kopi lokal yang akan dilelang dalam acara itu. Maka sejak sebulan terakhir ia sibuk wira-wiri berkoordinasi dengan banyak pihak untuk mempersiapkan acara itu.
Di sela kesibukanya itu, ayah satu anak ini meluangkan waktu untuk bertemu dengan suara.com, Kamis (21/8/2014) petang di sebuah kafe di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Saat ia datang tangannya menggenggam dua kantung kopi yang baru saja dipanggang serta sebuah buku panduan tentang kopi yang dikeluarkan asosiasi kopi Amerika Serikat.
"Banyak sekali potensi kopi Indonesia yang belum digali," ujarnya sambil menjelaskan ada 140 jenis kopi dari seluruh Nusantara yang akan dilelang dalam acara yang akan digelar di Kemayoran, Jakarta Pusat itu.
Itu yang sudah terdaftar, lanjutnya, yang belum masih sangat banyak. Namun ia menyayangkan potensi Indonesia sebagai pengekspor kopi ketiga terbesar dunia, belum tergarap dengan baik.
"Salah satu kendala utama adalah infrastruktur," ujar Arief yang tertarik pada dunia kopi pada 2009. Lalu ia mengisahkan bagaimana seorang petani kopi di Toraja yang harus berjalan kaki selama dua jam untuk mencapai kebun kopinya. Ini tentu tentu sangat mempengaruhi pada hasil panennya. Pasalnya penanganan pascapanen akan mempengaruhi kualitas bahan yang dihasilkan.
"Ada satu jenis kopi yang harus segera dicuci begitu dipetik, untuk kemudian difermentasikan agar mendapatkan kualitas terbaik," ujarnya.
Belum lagi kepemilikan kebun kopi yang rata-rata bukan dalam skala besar, mengakibatkan kualitas kopi yang dihasilkan menjadi tidak stabil. Tapi Arief yang baru serius menekuni bisnis kopi pada 2012 ini, tidak berpretensi mengubah itu semua, karena ia sadar petani-petani itu sudah jauh pengalaman dibanding dirinya.
"Saya bersama Morph Coffee, hanya ingin memberikan hasil optimal pada kopi yang sudah dihasilkan petani, dengan menemukan proses pembakaran yang tepat dengan jenis kopi yang kami dapat," ujarnya.
Hanya kadang ia memberi masukan pada petani yang memasok biji kopi padanya. Itu yang ia lakukan ketika kepadanya ditawarkan kopi jenis tertentu dari Aceh. Ia merasa ada yang salah dengan kopi itu dan bersama Andrew Tang, rekannya menduga-duga di mana letak 'kesalahan' itu. Ia pun lantas menegosiasikan dengan sang pemasok untuk mengubah metode fermentasi yang dilakukan. "Hasilnya ternyata sesuai dengan dugaan kami, dan petani pun tak merasa dipaksa," ujarnya.
Dari pipa ke kopi.
Nama Arief mungkin mungkin masih tergolong baru dalam bisnis kopi di Indonesia. Ia baru tertarik mempelajari kopi pada 2009, Saat itu ia bekerja di perusahaan minyak gas yang berpusat di Melbourne, Australia.
Ketertarikannya pada kopi, bermula ketika ia berlibur ke tanah air dan mencoba disuguhi kopi. Yang ternyata membuatnya jatuh cinta. Maka sejak itu ia rajin berselancar di dunia maya, belajar banyak tentang biji hitam ini. Ia juga makin rajin kafing, atau mencicipi kopi. Bahkan ia tak segan melakukan perjalanan ke pelosok tanah air, ke daerah yang dikenal sebagai penghasil kopi untuk mengetahui lebih jauh tentang kopi.
Sekembalinya ke Melbourne, Arief kemudian rajin menghadiri acara mencicip kopi yang digelar asosiasi kopi setempat. "Di situ saya belajar membedakan rasa berbagai macam kopi dunia," ujarnya.
Keinginannya untuk serius menekuni kopi akhirnya terjawab pada Musim dingin 2010, ketika St Ali, di Melbourne Selatan membutuhkan karyawan baru baik sebagai barista dan roaster. "Untuk diterima menjadi roaster di sana, saya harus menghadiri interview jam setengah tujuh pagi. Padahal subuh di Melbourne pukul tujuh," ujarnya mengisahkan beratnya perjuangan untuk menjadi 'master' kopi.
Tag
Berita Terkait
-
DMS Spesial Semarang Ungkap Sosok Nyonya, Perempuan Kaya Raya Penuh Dendam di Villa Singotoro
-
Siapa Siti Mawarni? Ini Alasan Kenapa Namanya Viral di Media Sosial
-
Pria Ini Ungkap Neneknya Sosok Pemetik Teh di Uang Pecahan Rp20 Ribu, Alhamdulillah Masih Sehat
-
Perempuan yang Menyeret Rambutnya Tengah Malam di Kandang Ayam Lek No
-
Misteri di Balik Lampu Jalan yang Selalu Menyala Sendiri
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan