Lifestyle / Relationship
Jum'at, 10 Oktober 2014 | 20:53 WIB
Ilustrasi (shutterstock)

Suara.com - Bulan Juli silam, dunia heboh oleh boneka cinta terbaru dari Jepang. Dan Orient Industri mengklaim produknya "CandyGirl"  adalah  boneka seks 'tingkat berikutnya'. Disebut memiliki kulit, kulit, perasaan nyata dan mata yang bakal melelehkan hati laki-laki.

Pertanyaannya, akankah boneka cinta ini akan segera menjadi mainstream dalam kehidupan cinta laki-laki di muka bumi ini?

Tadashi Anahori, pendiri toko seks secara online KanojoToys.com mengatakan, di Jepang boneka cinta sudah memiliki sejarah panjang. Bahkan menurutnya, penjelajah Jepang di Antartika punya boneka cintanya sendiri. Industri ini mulai berkembang pada tahun 1970-an, dan sejak awal telah ada puluhan pembuat boneka cinta, ada majalah boneka cinta.

Dan, percaya atau tidak, tersedia layanan sewa boneka cinta di sana. Perkembangan boneka cinta ini juga semakin mendekati wujud manusia. Dari semula menggunakan bahan lateks kini diganti dengan karet silikon.

"Jepang telah melalui perubahan sikap  yang disebut otaku geeks di akhir 1980-an. Sekarang elemen subkultur otaku adalah bagian dari budaya pop mainstream. Tentu saja, budaya otaku dan boneka seks, bukanlah hal yang sama. Tetapi ada kiasan serupa. Dan kini ada lebih penerimaan terhadap orang dengan selera yang tidak biasa," jelas Anahori.

Penerimaan ini, menurutnya, berlaku di berbagai bidang, dari industri film hingga praktek medis. Anahori mencontohkan, pada 2009, sutradara terkenal Hirokazu Koreeda mengangkat kisah boneka seks yang jatuh cinta pada pemiliknya dalam film  "Air Doll".

Lantas pada 2011, dirilis Showa Hanako, sebuah boneka untuk pelatihan para calon dokter gigi yang dibuat oleh Orient Industry  (produsen boneka cinta yang terkenal itu).
Tapi yang paling utama dari kisah boneka ini adalah ketika Lady Gaga 'membuat' Gagadoll untuk mempromosikan albumnya, ARTPOP. Memang, Gagadoll tidak dirilis untuk publik, tetapi ini turut mewarnai perkembangan teknologi boneka yang menyerupai manusia.

Ketika membahas mengenai boneka cinta, istilah 'kepemilikan' dan 'objektifikasi' tidak pernah jauh di belakang. Boneka ini menyerupai manusia, dan untuk saat ini dimaksudkan untuk melakukan interaksi sosial dan bercinta meskipun boneka ini tidak  bernyawa.

Mata mereka tetap terpaku pada pemilik mereka, mereka tidak pernah terganggu oleh kehadiran laki-laki lain. Memiliki bibir yang setengah terbuka, tidak pernah bergerak, selalu diam. Dan tubuh mereka adalah ideal, dan dalam beberapa kasus bisa dipesan lebih dahulu untuk dibuat ukuran yang sesuai.

"Sebagai kecenderungan umum, sex toys untuk laki-laki makin populer dan tak lagi dipandang negatif," ujar Lucy Plummer, PR Eksekutif LoveHoney, toko online khusus dewasa.  Jadi, lanjutnya, masuk akal jika semakin banyak orang yang menggunakannya.

Anahori mengamini. "Ya boneka seks pada umumnya kurang stigma, meskipun saya tidak bisa mengatakan (Itu)  pengguna yang di-stereotipkan  sebagai orang-orang kesepian," ujarnya.

Namun Anahori tak yakin akan terjadi penjualan boneka seks secara besar-besaran,  terutama yang terbuat dari silikon mewah. Item ini akan tetap menjadi barang eksklusif  karena harganya yang mahal. Kecuali jika ada ada teknologi yang membuat harga boneka cinta ini lebih terjangkau. (thedebrief.co.uk)

Load More