Gunung Papandayan, yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat menjadi pilihan banyak orang untuk merayakan pergantian tahun. Gunung ini tak terlalu tinggi, tetapi menyajikan pemandangan matahari terbit yang menawan.
Sehingga cocok untuk pendaki pemula, yang ingin mencoba merayakan tahun baru di puncak gunung. Informasi membuat saya tergoda dan berbekal fisik, mental, dan sejumlah perlengkapan mendaki gunung, saya pun siap berangkat menuju Garut dari Jakarta.
Bersama tiga rekan saya, saya memilih berangkat dengan menggunakan bus dari Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setelah membayar tarif sebesar Rp55 ribu, saya pun duduk manis menuju Terminal Guntur, Garut. Setibanya di Terminal Guntur, kami menyewa angkutan kota (angkot) dengan biaya Rp 15 ribu menuju Cisurupan.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan mobil pick up dari Cisurupan ke pos pendakian Gunung Papandayan. Untuk perjalanan ini kami hanya membayar Rp20 ribu. Namun untuk itu, kami harus menunggu, karena para pemilik angkot dan mobil pick up, biasanya baru akan berangkat jika mobil mereka terisi penuh.
Semakin sedikit yang menumpang, akan semakin mahal biaya yang akan dikenakan. Atau bisa juga dengan menyewa ojek berkisar antara Rp20-30 ribu. Tergantung kepiawaian Anda dalam menawar.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang dari Jakarta dan melapor pada pos pendakian, kami pun siap untuk mendaki. Awal pendakian, saya langsung disambut oleh jalanan sedikit menanjak penuh bebatuan. Tanahnya berwarna keemasan bercampur dengan tanah yang mengandung kapur. Kabut cukup tebal menyamarkan kemegahan gunung di depan saya.
Baru berjalan sekitar setengah jam, bau belerang mulai menyengat hidung. Kepulan asap dari kawah gunung saut menyaut, seakan menyambut setiap pendaki untuk lebih semangat lagi mencapai puncaknya.
Puas melewati trek bebatuan dengan pemandangan kawah, saya pun mulai melihat hijaunya pepohonan. Pada trek ini, mata mulai dimanjakan oleh pemandangan dan udara yang segar. Saya pun merasakan dinginnya air yang melintas dari beberapa sungai kecil yang kami lewati.
Kami nantinya akan berhenti di Pondok Saladah, sebuah camping ground tempat para pendaki berkumpul sebelum menuju puncak, sembari memulihkan energi yang terkuras di awal pendakian.
Perjalanan ke Pondok Saladah memakan waktu sekitar dua jam, inilah yang menjadi alasan mengapa gunung dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini sangat cocok untuk pemula. Medannya yang tidak begitu berat juga membuat gunung ini tergolong bersahabat. Selain itu, kontur tanahnya yang landai juga memudahkan para pendaki pemula untuk sampai di puncak gunung ini.
Saya dan teman lainnya pun memilih satu titik di mana kami akan membangun tenda. Tak perlu khawatir kehabisan bekal, di Pondok Saladah sudah tersedia pancuran air bersih, beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman hingga toilet umum.
Meskipun menawarkan kemudahan, tidak membuat pesona gunung api yang masih aktif ini hilang begitu saja. Ada beberapa tempat menakjubkan yang sayang jika dilewatkan, seperti padang bunga edelweiss bernama Tegal Alun. Hamparan bunga edelweiss dan danau kecil akan membuat siapapun terpesona.
Ada pula Hutan Mati yang juga menjadi salah satu tempat terkenal di Gunung Papandayan. Sisa-sisa batang pohon yang menghitam karena terbakar dan tanah berkapur yang berwarna putih menjadikan suasana menjadi indah. Belum lagi kabut yang turun menghiasi, semakin membuat tempat ini menjadi tempat favorit tujuan para pendaki.
Sebaiknya lakukan pendakian ketika siang hari ke dua tempat ini agar bisa puas menikmati hamparan edelweiss dan pesona hutan mati sambil berfoto. Penggunaan sepatu trekking lebih disarankan agar memudahkan perjalanan karena medan ke dua tempat ini cukup licin, curam dan berbatu.
"Papandayan itu gunung paling enak buat santai, nikmatin alam dan kumpul sama teman-teman. Selain medan yang cukup mudah, viewnya yang bagus juga bisa didapetin di sini, apalagi di hutan mati. Bagus buat yang suka foto," kata Radinal Muchtar, yang memandu pendakian kami hari itu.
Setelah puas menikmati 'surga' di wilayah Garut tersebut, saya pun kembali ke Pondok Saladah untuk menikmati hidangan dan beristirahat sebentar, sebelum bersiap turun kembali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Persebaya Babak-belur di Kandang Borneo FC, Ini Dalih Bernardo Tavares
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Terkini
-
Atraksi Tatung hingga Kuliner Tionghoa Ramaikan Cap Go Meh Little Singkawang di TM Seasons City
-
Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
-
7 Sabun Mandi Cair untuk Mencerahkan Kulit, Murah Mulai Rp30 Ribuan
-
Hukum Puasa Tidak Sahur karena Kesiangan, Apakah Tetap Sah?
-
Ngabuburit Serasa di Italia, Jalan Sore di Orange Groves Jadi Spot Favorit Ramadan
-
Vidi Aldiano Sempat Pneumonia Sebulan Sebelum Meninggal, Ini Bahayanya bagi Pasien Kanker Ginjal
-
30 Link Twibbon Hari Perempuan Sedunia 2026 Gratis, Langsung Pakai
-
Vidi Aldiano Meninggal di Bulan Ramadan dan Momen Nuzulul Quran, Apa Maknanya?
-
6 Merek Baju Koko Anak Branded untuk Lebaran, Bahan Adem Harga Terjangkau
-
Kisah Cinta Vidi Aldiano dan Sheila Dara yang Dipisahkan oleh Maut