Suara.com - Anda penikmat kuliner pedas? Jika ya, maka tak salah jika sesekali mencoba 'Sambai Oen Peugga.' Sambal khas Aceh yang mempunyai citarasa begitu menggoda, gurih, nikmat, dan bisa menjadi obat. Penganan ini masih bisa dinikmati setiap bulan Ramadan tiba.
Tak perlu takut kepedasan. Sambal tradisional masyarakat Aceh sejak turun temurun ini cukup mengerti lidah siapa saja. Baik mereka yang suka pedas atau tidak, bisa menikmati Sambai Oen Peugaga.
Sambai Oen Peugaga jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia merupakan sambal yang terbuat dari daun pegagan (Centella asiatica). Di Aceh, tanaman liar yang bisa tumbuh di pematang sawah atau kebun ini disebut disebut peugaga. Sedangkan di daerah lain, seperti di Banjar bernama jalukap, daun kaki kuda (Melayu), ampagaga (Batak), antanan (Sunda), dan gagan-gagan, rendeng, cowek-cowekan, pane gowang bagi daerah Jawa.
Sambai Oen Peugaga di Aceh diracik bersama dengan 44 dedauanan lainnya seperti daun tapak liman, daun jambu muda (pucuk), daun mengkudu, rebung kala, bunga pepaya, daun serai, daun jeruk purut, dan berbagai jenis daun lainnya.
Sebelum diolah menjadi penganan, 44 daun tersebut terlebih dahulu dipotong kecil-kecil. Jangan lupa, sebelum memotong, pastikan dulu dedauan sudah dalam keadaan bersih.
"Potong halus-halus semua daun. Lalu campurkan menjadi satu. Setelah itu uapin sebentar saja daun yang sudah dipotong," kata Julina (50), salah seoarang Sambai Oen Peugaga di Banda Aceh, Jumat (26/6/2015).
Julina, mulai menekuni pembuatan sambai oun peugaga sejak tahun 2005. Atau setelah orang tuanya meninggal dunia. Resep sambai oen peugaga yang ada padanya saat ini merupakan warisan turun temurun dari keluarga. Maka tak heran, jika dagangan sambai oen peugaga yang ia jual lebih laris.
Menurut Lina, pengolahan sambai oen peugaga tidak bisa dilakukan sembarangan. Jika salah sejak proses awal, bisa-bisa sambai oen peugaga tidak enak dimakan.
"Keluar bau menyegat dari daun-daun jika salah olah. Maka untuk menghilangkan rasa menyengat itu, dia harus diuap. Siap dipotong itu, diuap sekitar lima menit," ujarnya.
Setelah proses tersebut dilakukan, baru kemudian daun-daun yang ada di remas kembali. Tujuannya, kata dia, agar kandungan air dan bau pada daun keluar. Usai melakukan proses tersebut, barulah campuran beragam daun dikeringkan.
"Setelah kering lalu aduk dengan bumbunya," ujarnya.
Bumbu campuran yang dimaksudnya adalah, kelapa parut yang telah digonseng, kacang, bawang merah, cabai rawit, asam sunti, dan udang.
"Campurkan daun ke dalam bumbu itu semua sampai merata. Jangan lupa kasih sedikit jeruk nipis dan garam secukupnya agar lebih terasa," tutur Lina.
Setelah semua hal tersebut dilakukan, maka sambai oen peugaga pun siap disantap. Menikmati sambai oen peugaga di bulan Ramadan bisa membuat tubuh jauh lebih sehat. Kandungan vitamin yang terkadung dalam 44 dedauan itu memiliki khasiat yang baik untuk pencernaan dan pencegahan penyakit.
"Anging-angin keluar semua dari badan. Segar dan sangat bagus untuk pencernaan," kata Taufik salah seorang penikmat sambai oen peugaga.
Selain hal tersebut, sambai oen peugaga juga diyakini mampu meberikan nutrisi pada otak, sehingga membantu meningkatkan konsentrasi, daya ingat dan juga kecerdasan. [Alfiansyah Ocxie]
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Pemerintah Dorong Produk Indonesia Masuk Rantai Pasok Haji Arab Saudi
-
Catut Nama Prabowo, Istana Bantah Makalah Nobel Soal Program MBG
-
Lulur Keraton Kembali Jadi Sorotan, Warisan Kecantikan Nusantara yang Tetap Relevan hingga Kini
-
Calon Hakim Agung Usul RUU Perampasan Diganti Jadi Pemulihan Aset, Menkum Tunggu Langkah DPR
-
Dinilai Keliru, Mahasiswa Layangkan Nota Keberatan atas Inpres Koperasi Merah Putih
-
Kopdes Merah Putih Berpotensi Jadi 'Hambalang Kecil', Masa Depan Desa Digadaikan
-
Norman Joesoef Jadi Wamenhan? Pakar: Rawan Konflik Kepentingan dan Pengalaman Birokrasi Nol
-
Misteri Penusukan di 16 Ilir Palembang, Pria Banyuasin Alami Luka di Kepala hingga Bahu
-
Bekasi Bersiap Berpesta! Primaria Fest 2026 Suguhkan Pengalaman Indonesian Bounce Music yang Berbeda
-
Pelibatan TNI di Kopdes Merah Putih Dikritik, Sistem Komando Tak Cocok untuk Koperasi