Lifestyle / Female
Selasa, 07 Juli 2015 | 15:01 WIB
Ilustrasi pantyliner kain. (shutterstock)

Suara.com - Temuan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) tentang adanya sejumlah pembalut dan pantyliner mengandung klorin tentu meresahkan para perempuan. Bagaimana tidak, kandungan klorin atau zat pemutih ini mengandung ancaman yang tak bisa disebut enteng. Bahkan dalam jangka panjang, klorin bisa memicu kanker serviks.

Untuk meminimalisir risiko yang terjadi dari penggunaan pembalut atau pantyliner sekali pakai ini, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi   mengimbau agar konsumen berhati-hati dalam memilih produk pembalut karena menyangkut keamanan dan kesehatan organ reproduksinya.

Ia bahkan menyarankan kaum perempuan kembali menggunakan pembalut kain, seperti yang digunakan masyarakat pada masa lalu.

"Bisa gunakan pembalut kain, karena bahannya lebih aman dan bisa dicuci dan dipakai ulang," kata Tulus Abadi usai konferensi pers YLKI di Jakarta, Selasa (7/7/2015).

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 472/MENKES/PER/V/1996 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan, disebutkan bahwa bahan kimia klorin bersifat racun dan iritasi. Dengan temuan uji sampel ini, Tulus berharap agar masyarakat lebih jeli untuk memilih produk dengan kandungan klorin yang terendah.

"Ibaratnya seperti udara, kita tahu udara sudah tercemar, banyak polusi tapi bukan berarti kita nggak boleh bernapas. Semoga dengan temuan ini bisa dijadikan petunjuk bagi konsumen untuk memilih produk pembalut atau pantyliner," imbuh Tulus.

Dalam uji sampel yang dilakukan pada Januari hingga Maret 2015 ini peneliti YLKI menemukan kandungan klorin tertinggi yakni 54.73 ppm pada pembalut merek CHARM. Sementara pada pantyliner kandungan klorin tertinggi ditemukan pada merek V Class yang diproduksi PT Softex Indonesia sebesar 14.68 ppm.

Load More