"Saya tidak ingin jadi apa-apa, habis mau apa lagi," jawaban Depi, seorang remaja dari sebuah pemukiman padat penduduk di kawasan Jakarta Barat, saat ditanya cita-citanya ini membuat Jenny Tjoa terhenyak.
Sambil menerawang Jenny mengisahkan, saat itu ia baru saja pulang ke tanah air setelah 17 tahun tinggal di Australia dan Singapura.
Jawaban Depi itu membuat Jenny, yang saat itu menjadi relawan bagi sebuah yayasan pendidikan bagi anak-anak jalanan, makin menyadari bagaimana kondisi lingkungan berpengaruh besar bagi perkembangan seorang anak. Tanpa ada panutan di sekitarnya, seorang anak bisa tumbuh tanpa arah. Bahkan lebih buruk lagi, akan banyak Depi-depi lain yang hidup tanpa cita-cita dan tak punya keinginan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik.
Berangkat dari kondisi ini, Jenny yang saat itu masih berusia 28 tahun kemudian memutuskan untuk seratus persen meluangkan waktunya untuk 'membantu' menebar benih bagi anak-anak kurang beruntung.
"Karena setiap anak berhak untuk bermimpi," tegasnya sambil menambahkan ucapan Depi inilah yang kini dijadikan tagline "Yayasan Belajar Bersama Sjors" (BBS) yang didirikannya bersama Georges, lelaki berdarah Belanda-Ambon yang tak sengaja ditemuinya di sebuah kafe di Jakarta.
Keputusan ini diambil, karena anak kedua dari empat bersaudara yang dilahirkan di Medan, Sumatera Utara ini sadar, untuk mewujudkan misinya untuk menebar benih agar anak-anak, khususnya anak kurang mampu tak bisa dilakukan sambil lalu.
Ia harus fokus. Jangan sampai, ujarnya, langsung menangani tiga hingga empat hal sekaligus tapi tak ada yang meraih hasil maksimal.
Diakuinya, BBS memang tak bisa dikatakan sebagai anak kandungnya. Ia dan Georges hanya meneruskan yayasan pendidikan untuk anak jalanan yang 'ditinggal' pendirinya karena harus pindah ke luar Jakarta. Ketika penggagas proyek itu berhenti, Jenny dan Georges memutuskan untuk mengambil alih dan meneruskan serta mengembangkan program belajar dalam yayasan baru bernama BBS.
Berbekal dana yang berhasil dikumpulkan Georges dari sejuamlah donatur di negeri kincir angin,BBS pun mulai menapaki langkahnya dengan 40 siswa. Menurut Jenny hampir 90 persen modal awal BBS berasal dari dana ini, namun kini secara bertahap mereka mulai mencari donatur dalam negeri untuk membantu mengentaskan 330 anak dari keluarga kurang mampu yang bernaung di bawah BBS.
BBS kini yang kini menginjak tahun pertama memperkenalkan kurikulum baru yang diharapkan dapat membangun kepercayaan diri dan karakter anak-anak, khususnya yang tinggal di daerah kumuh. Kegiatan belajar berlangsung sekali sepekan, setiap Minggu siang selama satu setengah jam. Tempatnya, di lapangan futsal di bawah jembatan layang Jembatan Tiga, Jakarta Barat.
Berita Terkait
-
Nasib Apes Pemain Diaspora: Main di Belanda tapi "Dibekukan" Gara-Gara Paspor WNI?
-
Bawa Buku Paradoks Indonesia, Diaspora di Tokyo Ungkap Kesan Haru Bertemu Presiden Prabowo
-
Momen Hangat, Anak Diaspora Indonesia di Jepang Sambut Prabowo
-
Deg-degan, Diaspora di Jepang Berhasil Dapat Tanda Tangan Prabowo
-
Momen Hangat Prabowo Bertemu Diaspora Indonesia di Jepang: Bisa Selfie Bareng
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Daftar Harga Mesin Cuci LG Front Loading 8 Kg Terbaru, Mulai dari Rp4 Jutaan
-
Munif Taufik Dijuluki Justice Collaborator Kasus FH UI, Apa Ancaman Hukumannya?
-
Hari Kartini 21 April 2026 Apakah Libur? Cek Ketentuan Resmi Menurut SKB 3 Menteri
-
6 Mesin Cuci 2 Tabung Harga Rp1 Jutaan yang Hemat Listrik, Cocok untuk Rumah Tangga
-
7 Rekomendasi Kacamata Anti Sinar UV 400, Lindungi Mata dari Sengatan Godzilla El Nino
-
4 Ancaman Hukuman Berat Menanti 16 Mahasiswa UI Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Grup Chat
-
7 Parfum Wanita yang Tercium dari Jarak Jauh, Murah Cuma Rp30 Ribuan
-
Front Loading vs Top Loading, Ini Kelebihan dan Kekurangan Mesin Cuci 1 Tabung
-
Bukan Whistleblower, Munif Taufik Dicap Netizen Justice Collaborator di Kasus FH UI, Apa Bedanya?
-
5 Rekomendasi Primer yang Tahan Lama, Bikin Makeup Menempel Seharian