Kemudian pada 2013, digelar Sail Komodo, bersamaan dengan Festival Derawan, Sail Raja Ampat dan Festival Danau Sentani, Sail Tomini dan Festival Boalemo, dan tahun ini, siap digelar Sail Karimata dan Festival Bahari Kepri.
Bila dikolaborasikan dengan 4.000 lebih yacht yang parkir di Singapura, Guntur yakin event ini akan sukses. Jarak Batam dan Bintan sangat dekat dengan Singapura, tak sampai satu jam.
Satu hal yang perlu dicatat, para yachter dunia selalu memburu titik zero equator. Titik itu sudah banyak menyebar di Kepri. Selain Batam, ada Tanjungpinang, Bintan dan Karimun. Selain itu, di Lingga, ada zero equator yang menjadi incaran para yachter dan alam nan eksotik di Natuna dan Anambas.
Namun, satu hal yang masih jadi kendala saat ini adalah banyaknya sampah di laut.
Sekadar catatan, Indonesia masuk dalam peringkat dua di dunia setelah Tiongkok sebagai penghasil sampah plastik ke laut. Pada 2015, Tiongkok memproduksi 262,9 juta ton sampah yang dibuang ke laut, sementara Indonesia sebanyak 187,2 juta ton.
Selain mengganggu kebersihan laut dan pantai, sampah juga akan menjadi kendala besar bagi kapal layar dan yacht, bila tersangkut di motornya.
"Sekarang kami sudah menyediakan sarana pengangkutan sampah, terutama bagi warga yang tinggal di tepi pantai. Pemkot Tanjungpinang juga siap mengoperasikan alat angkut sampah khusus di laut, dengan nama taksi sampah," kata Guntur.
Di tempat terpisah, Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, menyatakan tak ingin banyak berkomentar soal sampah. Dia memilih langsung action.
Menurutnya, keberadaan sampah di pelantar I, II dan III sudah kronis. Semakin hari semakin memprihatinkan.
Lalu, bagaimana solusinya?
"Setop membuang sampah ke laut mulai dari sekarang. Pada rangkaian Festival Bahari Kepri, 20 Oktober 2016 nanti, kami menggelar eco heroes. Ini merupakan bentuk kepedulian terhadap planet Bumi sebagai rumah bersama makhluk hidup. Kami mendorong dan menginspirasi generasi hijau yang peduli untuk mencintai lingkungan. Semua elemen masyarakat kita ajak untuk menjadi pahlawan. Kita ajak perang melawan sampah di laut. Nanti akan kita pusatkan di perairan di Pulau Penyengat. Kita akan gotong royong di sana untuk membersihkan destinasi dan situs wisata Pulau Penyengat," kata Lis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Sayembara Umrah Menteri PU: Politik Klarifikasi di Tengah Tuduhan Nepotisme
-
Klinik Hewan Keliling DKI Resmi Beroperasi, Warga Bisa Akses Layanan Mulai Rp35 Ribu
-
Vonis 10 Tahun Belum Final, Nadiem Makarim Akan Jalani Sidang Banding
-
Purbaya Pastikan Ambil Alih Utang Kereta Cepat, Tinggal Tunggu Danantara
-
Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
-
Tahun Ajaran Baru Dimulai, MBG Hadir Lagi: Kritik Publik Kembali Menggema?
-
Fafa Sumenep Bawa Pesan Positif Lewat Single Bismillah Karena Cinta
-
Bagaimana Cara Memilih Sunscreen yang Aman untuk Anak-anak?
-
Buang Sampah Sembarangan: Mengapa Kita Masih Takut Menegur Pelanggar?
-
Objektivitas Penanganan Kasus Febrie Diragukan, Komjak Dinilai Gagal Jalankan Fungsi Pengawasan